Kerjasama yang Baik.

a.Persepsi tentang kerjasama  :

  1. Ada orang yang dapat bekerja secara efektif dan efisien dengan kerjasama kelompok, bahkan bagi sebagian orang keterikatan pada kelompok merupakan suatu kebutuhan.
  2. Namun, ada orang yang lebih senang bekerja sendirian tidak begitu menyukai kelompok.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok :

  • Adanya rasa percaya (Trust) diantara sesama anggota kelompok;
  • Adanya keterbukaan (Openness) diantara sesama anggota kelompok;
  • Adanya kesempatan mengekspresikan perwujudan diri (Self Realization) bagi setiap anggota kelompok;
  • Adanya rasa saling ketergantungan (Interdependence) diantara setiap anggota dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, untuk mencapai tujuan kelompok.

b.Keuntungan melakukan kerjasama :

  • Memperingan tugas yang harus dipikul oleh masing-masing pihak;
  • Menghemat tenaga, pikiran dan dana yang biasanya sangat terbatas dalam setiap kegiatan;
  • Dengan dana, tenaga, pikiran yang tersedia, dapat menghasilkan lebih banyak;
  • Lebih memberi kemungkinan  pada seluruh pihak untuk mengembangkan kemampuan dalam rangka menuju terbangunnya kemanusiaan.

Dari kedua hal tersebut, maka kerjasama kelompok mempunyai kekurangan dan kelebihan :

Kelebihan – kelebihan kerjasama kelompok :

  • Kebutuhan psikologis untuk berbaur dengan orang lain terpenuhi.
  • Kekurangan secara individual dapat dinetralisir.
  • Memungkinkan terjadinya sinergi.
  • Dapat bertukar informasi dan bertukar fikiran.
  • Kemampuan spesialisasi dapat berperan aktif.
  • Dapat belajar dari orang lain.

Kekurangan kerjasama kelompok :

  • Mengurang kemandirian kita.
  • Memungkinkan tekanan dari kelompok terhadap  individu atau kelompok kecil tertentu.
  • Membina kerjasama memerlukan waktu, tenaga, pikiran, dsb
  • Keputusan kadang-kadang diambil hanya sekedar menyenangkan kelompok, bukan untuk pencapaian tujuan akhir.

c.Ciri-ciri Team yang Efektif  :

  • Adanya tujuan bersama yang jelas (Clear Objective)
  • Kepemimpinan yang tepat (Approtiate Leadership)
  • Keanakbuahan yang memadai (Sufficient Followership)
  • Rasa ikut memiliki (Sense of Belonging)
  • Komitmen (Commitment)
  • Kebersamaan (Intergroup Relation)
  • Saling percaya (Trust)
  • Loyalitas pada Team dan Pimpinan
  • Dedikasi pada Team (Dedicate of Team)
  • Kerjasama (Teamwork), dsb
  • Profesionalisme (Profesionalism) anggota :
  • Pengetahuan (Knowledge)
  • Keterampilan (Skill)
  • Keterampilan hubungan kemanusiaan & hubungan sosial (Social Responbility)
  • Sikap perilaku (Attitude)

Efektivitas Kelompok

Untuk mencapai efektivitas dan produktivitas sebuah kelompok atau tim kerja diperlukan suasana yang solid dan kondusif untuk meningkatkan terjadinya proses kerjasama diantara sesama anggotanya dalam mencapai tujuan kelompok.Soliditas, efektivitas dan produktivitas kelompok dipengaruhi oleh adanya rasa percaya, keterbukaan, perwujudan diri dan saling ketergantungan diantara individu-individu anggota kelompok, namun keempat faktor tersebut merupakan sesuatu yang abstrak dan sukar diobservasi. Pada uraian dibawah ini efektivitas kelompok akan dilihat secara nyata dalam bentuk perilaku anggota selama proses interaksi terjadi dalam kelompok.

Kelompok yang efektif

Dalam sebuah kelompok yang efektif dapat kita saksikan adanya dua kategori perilaku anggota kelompok, yaitu :

  1. perilaku yang berorientasi pada tugas;
  2. perilaku yang berorientasi pada pemeliharaan hubungan anggota kelompok.

Perilaku yang berorientasi pada tugas, selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mewujudkan pencapaian tujuan organisasi. Kenyataan ini dapat dilihat dari aktivitas anggota kelompok dalam melakukan kerja kelompok, antara lain :

  1. Mengambil inisiatif, antara lain mengajukan pendapat baru, merumuskan dan memberi pengertian baru terhadap masalah, sehingga menjadi lebih jelas, menunjukkan kelemahan masalah, mengusulkan pemecahan masalah.
  2. Mencari informasi, antara lain meminta penjelasan terhadap saran yang diajukan, meminta tambahan informasi atau fakta/data.
  3. Mengumpulkan pendapat, antara lain menanyakan ekspresi perasaan anggota, usul atau ide para anggotanya terhadap suatu masalah.
  4. Memberi informasi, antara lain menyajikan fakta dan memberikan kesimpulan dengan ilustrasi pengalamannya sehubungan dengan masalah yang dihadapi kelompok.
  5. Mencari pendapat, antara lain menanyakan pendapat atau keyakinan anggota tentang suatu saran, terutama yang terkait dnegan nilai-nilai, bukan fakta.
  6. Mengolah informasi, yaitu menjelaskan, memberi contoh, menafsirkan dan menggambarkan akibat yang bisa terjadi apabila saran dilaksanakan.
  7. Mengkoordinasikan, antara lain menyatukan berbagai pendapat atau saran, mengintegrasikan aktivitas anggota-anggota atau sub-subkelompok.
  8. Menyimpulkan, antara lain menyimpulkan pendapat atau saran yang saling berhubungan, dan mengulang saran tersebut setelah kelompok selesai mendiskusikannya.

Perilaku yang berorientasi pada pemeliharaan kelompok, selalu berupaya mengingatkan dan mengajak anggota kelompok untuk mempertahankan keutuhan kelompok.

Kenyataan ini dapat dilihat dari aktivitas anggota kelompok dalam melaksanakan kerja kelompok, antara lain :

  1. Mendorong pemeliharaan hubungan, seperti mudah berteman, ramah, cepat tanggap, menghargai, menyetujui dan menerima pendapat orang lain.
  2. Mendorong keterlibatan anggota, dengan berusaha agar semua anggota terlibat dalam pembicaraan, misalnya menyatakan : Bapak/Ibu A belum kita dengar pendapatnya, atau meminta setiap anggota membatasi pembicaraannya, agar semua anggota mendapat kesempatan untuk mengemukakan pikirannya.
  3. Membuat norma kerja, yaitu mengusulkan adanya kesepakatan tentang norma kerja kelompok untuk kelancaran dan ketertiban pertemuan/diskusi, menilai dan mengambil keputusan serta untuk memperingatkan kelompok bila norma tersebut dilanggar.
  4. Mengikuti kesepakatan, yaitu menyatakan menerima pendapat si A, sependapat dengan keputusan kelompok, dan menjadi seorang pendengar yang baik selama proses diskusi berlangsung.
  5. Mengekspresikan pendapat kelompok, yaitu berusaha menyimpulkan perasaan kelompok dan menguraikan reaksi kelompok terhadap suatu pendapat atau keputusan.

Kelompok yang kurang efektif

Dalam sebuah kelompok yang kurang efektif dapat kita saksikan adanya perilaku anggota yang berorientasi pada dirinya sendiri, yaitu antara lain :

  1. Menentang : mengeritik, menyalahkan orang lain, menunjukkan sikap menentang kelompok atau perorangan, dan merendahkan orang lain.
  2. Menghalangi, antara lain menghalangi kemajuan kelompok dalam mencapai sasarannya dengan membelok-belokkan pembicaraan ke arah lain, mengutarakan pendapat pribadi yang tidak ada hubungannya dengan topik yang sedang dibicarakan, bicara terlalu banyak yang menimbulkan kesan ingin mendapat pujian.
  3. Mendominasi, antara lain memborong pembicaraan dalam kelompok dengan menekankan pendapatnya sendiri, tidak menghargai pendapat orang lain dalam kelompok, tidak memperhatikan perasaan orang lain, sehingga terkesan ingin menonjolkan diri serta menjadikan kelompok sebagai alat untuk menguji pendapatnya saja.
  4. Menyaingi, antara lain selalu berusaha mengajukan pendapat lebih dulu dari orang lain, bersaing untuk mengemukakan ide atau pendapat yang paling bagus, mencari muka pada pimpinan.
  5. Mencari simpati, antara lain mencoba mempengaruhi anggota lain agar menjadi tertarik pada suatu persoalan tertentu atau tertarik pada kegagalan kelompok, menciptakan situasi untuk mendapatkan dukungan dari anggota lain.
  6. Menyokong pendapat tertentu, antara lain mengajukan atau mendukung pendapat tertentu yang berkaitan dengan kepentingan atau falsafah hidupnya.
  7. Mengganggu proses, antara lain sering melucu, menampilkan mimik tertentu serta menginterupsi pembicaraan dan pekerjaan kelompok dengan pemikiran yang kurang relevan.
  8. Mencari nama, yaitu coba untuk mengarahkan semua perhatian anggota kelompok padanya, antara lain dengan bicara keras, mengemukakan pendapat yang ekstrem dan berperilaku aneh-aneh.
  9. Berbuat acuh tak acuh, antara lain : berperilaku pasif, bersikap masa bodoh, tak peduli terhadap situasi kelompok, melamun, berbisik-bisik dengan orang lain, lari dari topik pembicaraan yang sedang dibahas. (Sumber : Pusdiklat Depnaker, 1989)
Adanya perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini tidak selamanya jelek, kadang-kadang ada yang bermanfaat, antara lain :
  1. untuk menguji agar keputusan kelompok betul-betul melalui suatu proses yang kompleks;
  2. dalam proses dinamika kelompok, perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini justru menjadi bahan pembelajaran yang baik bagi anggota kelompok. Tentu saja proses ini harus didahului dengan terciptanya iklim keterbukaan dalam kelompok.
Dengan terciptanya iklim keterbukaan dalam kelompok dan pemberian umpan-balik yang benar dari seorang anggota kelompok kepada anggota lain, diharapkan perilaku yang berorientasi pada diri sendiri ini akan berkurang dan akan berubah menjadi perilaku yang berorientasi kepada tugas dan kepada pemeliharaan kelompok.

14 Comments »

  1. venty Said,

    March 1, 2010@ 6:04 pm      

    artikel yang sangat menarik kawand..
    inspiratif juga.. terima kasih kawand…


RSS feed for comments on this post

Leave a Comment