Kecermatan yang Baik.

Benarkah mutu gizi di Negara kita yang menurun menyebabkan daya pikir kita menurun? Kita banyak menemukan orang malas mikir, sekedar gali lubang – tutup lobang dalam menyelesaikan masalah, tidak mengantisipasi, gagal membuat prediksi, asal membuat keputusan, tidak kreatif dan tidak inovatif. Sebut saja, pendidikan yang biayanya makin meroket dan bukannya semakin terjangkau. Program yang mati di tengah jalan, seperti misalnya pengembangan monorail, yang bahkan kini membongkar kembali tiang pancang raksasa yang pernah didirikan di beberapa jalan protokol. Dokter pintar yang kalah pamornya dari bocak cilik dan batu petir-nya. Olok – olok nyanyian, ”Inilah Indonesia…”, pada setiap kebodohan praktik-praktik lapangan yang kita jumpai, sering menyakitkan hati.
Data dari hasil seleksi terhadap ribuan calon pegawai menggambarkan bahwa tingkat IQ, ukuran kecerdasan yang paling valid, tidak menunjukkan penurunan. Jadi, apa yang salah dengan bangsa kita? Mengapa pasaran dunia sering menganggap kita tidak se-’cermat’ bangsa lain? Bila seorang peserta program management trainee, yang sudah terseleksi cerdas, tidak juga bisa membuat solusi – solusi praktis di tempat kerja setelah melalui pendidikan intensif selama 9 bulan, apakah kita masih akan menyalahkan cara didik di sekolah yang dianggap sudah berkurang mutunya? Ataukah, praktik di lapangan kerja yang kurang kondusif? Pertanyaannya, apakah membangun kebiasaan cara pikir yang unggul akan kita letakkan sebagai tanggung jawab pihak eksternal di luar diri individu saja? Apakah tidak ada yang salah dengan kebiasaan pikir kita masing -masing?

Biasakan “Mindset” Periset

Di jaman serba instan ini, hampir segala informasi dengan mudah bisa kita dapatkan dengan meng-“googling” atau “wiki-ing”. Jika ada kerabat terserang demam berdarah, kita bisa mendapatkan lebih dari 79.000 informasi mengenai topik tersebut lewat Google, mulai dari penyebabnya, penangannya, pencegahannya, obat – obatan medis maupun tradisional, dokter yang jago menangani, sampai berbagai sharing pengalaman pribadi seputar topik tersebut. Internet memang sudah dianggap menjadi bagian besar dari solusi pengetahuan karena menyajikan jawaban terhadap ‘APA dan ‘BAGAIMANA’-nya dari suatu masalah yang sedang kita hadapi. Tetapi, dalam kasus demam berdarah itu, misalnya, mudahkah kita menentukan pilihan dokter, rumah sakit, atau tindakan yang tepat? Bukankah kita yang sudah demikian ‘knowledgable’ pada praktiknya sering membuat kesalahan keputusan? Untuk menuntaskan suatu masalah, kita masih perlu mengelaborasi informasi, menganalisa, mencari kaitan, mensintesa, bereksperimen serta menghitung risiko. Di sinilah kita sering kehilangan arah. Apalagi bila hasil kerja otak kita alias daya pikir kita perlu kita genjot lebih jauh, misalnya untuk membuat arahan, strategi, taktik, kreasi ,inovasi , motivasi, menggambar visi, mempengaruhi dan mencari solusi yang merupakan campuran dari masalah sosial, emosional dan interpersonal, apalagi politik. Sumber-sumber informasi digabung dengan potensi kepintaran kita perlu dilengkapi dengan pengolahan lebih lanjut dulu, sebelum membuahkan kecermatan.

Berfikir sebagai Gaya Hidup

Baru-baru ini saya menghadiri sebuah rapat untuk membuat keputusan penting. Dalam rapat tersebut hadir beberapa eksekutif dan beberapa ahli yang memang sangat mumpuni di bidangnya. Dalam rapat tersebut, di mana saya hanya hadir sebagai observer, saya mengamati betapa ruginya jika kita tidak biasa mengasah berpikir kritis dan mendalam. Di situ saya melihat kurangnya usaha mendengar dan tidak ada upaya serius untuk menggali data dari para ahli. Terlihat pula tidak adanya upaya bertanya untuk memperjelas dan memperdalam pemahaman. Saya jadi bertanya tanya, buat apa para ahli tersebut dikumpulkan? Apakah dalam pengambilan keputusan ini , ‘power’ lebih dipentingkan daripada pengetahuan? Apakah para eksekutif itu memang sudah ‘tahu’ semua , baik masalah, duduk perkara ataupun pilihan solusinya?
Terkadang dalam menentukan langkah itu kita perlu pandai-pandai memilih tempat bertanya, mencari ahlinya, bertanya kepada yang sudah berpengalaman, memformulasikan pertanyaan yang akan diajukan, mengulang lagi, mengecek kembali, berkontemplasi, sampai akhirnya mengambil kesimpulan. Untuk orang-orang yang terlatih, dan ‘intelek’ , proses berpikir ini tidak terjadi berjam-jam, tetapi sudah menjadi mindset bahkan gaya hidup. Individu seperti inilah yang baru bisa disebut mengoptimalisasikan daya pikirnya.

A bigger “here” & a longer “now”

Dalam pelajaran kemiliteran, seorang perajurit dituntut untuk bisa mengawasi keadaan baik dalam keadaan diam, maupun bergerak cepat. Mereka juga dilatih untuk membuat kesimpulan setelah membuat observasi yang tajam. Dalam latihan maupun kenyataan di peperangan, salah mengamati dan keliru mengambil kesimpulan berarti mati. “Extremist leadership” seperti ini rasanya tidak selalu hanya diterapkan di peperangan atau kegiatan terjun bebas. Kekuatan untuk menyasar isu dengan lebih luas dan tajam-lah yang biasanya membuat kita lebih paham terhadap gejala yang ada di sekitar kita. Bila kita tidak mampu memahami situasi saat ini dan risiko yang tengah kita hadapi, bagaimana kita bisa mengambil keputusan dengan tepat?
Tidak tuntasnya bahkan sikap asal-asalan kita menangani suatu permasalahan ternyata kerap berasal dari sikap kita yang ingin cepat-cepat beralih dari masalah atau soal ‘kekinian’. Kita sering tidak sabar untuk mengumpulkan bukti – bukti, mengendapkan masalah dan menyusun data yang kita punya. Inilah latarbelakang mengapa kita sulit mengambil keputusan, dan terkadang malas membuat strategi dan rencana perbaikan mendetil, ingin segera bertindak tanpa pikir panjang.. Apa akibatnya? Banyak kita lihat galian kabel di jalan yang tidak diselesaikan dengan sempurna, sudah ditinggalkan. Bahkan, masalah besar seperti bobolnya tanggul pun belum tentu bisa terantisipasikan dan terselesaikan dengan tuntas hingga ‘hampir sempurna’. Mengembangkan daya pikir yang kuat, bisa diasah dengan melatih kesabaran dan kesadaran mengenali “here & now”-nya dalam dalam. Inilah yang sering disebut sebut para ahli sebagai berfikir obyektif.

By : Eileen Rachman & Sylvina Savitri

17 Comments »

  1. online Said,

    December 30, 2009@ 11:41 pm      

    Terima kasih atas informasi menarik

  2. venty Said,

    March 1, 2010@ 6:03 pm      

    artikel yang menarik kawand…

  3. nieza Said,

    March 31, 2010@ 1:03 pm      

    thank’s for all


RSS feed for comments on this post

Leave a Comment