Da’wah ke jalan Allah dan akhlaq seorang Da’i

للإمام عبد العزيز بن عبد الله بن باز

DAKWAH KE JALAN ALLOH DAN AKHLAK SEORANG DA’I

Karya :

Imam ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، إله الأولين والآخرين، وقيوم السماوات والأرضين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وخليله وأمينه على وحيه، أرسله إلى الناس كافة بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه الذين ساروا على طريقته في الدعوة إلى سبيله، وصبروا على ذلك، وجاهدوا فيه حتى أظهر الله بهم دينه، وأعلى كلمته ولو كره المشركون، وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Segala puji hanyalah milik Alloh Rabb (pemelihara) alam semesta, dan akibat (yang baik) hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa serta tidak ada permusuhan melainkan hanya kepada orang-orang yang berbuat aniaya (zhalimin). Aku bersaksi bahwa tiada ilaah (sesembahan) yang haq untuk disembah kecuali hanyalah Alloh semata yang tiada sekutu bagi-Nya, (Dialah) sesembahan yang pertama dan yang belakangan, yang menegakkan langit dan bumi. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya serta kekasih (khalil) dan kepercayaan (amin)-Nya yang bertugas menyampaikan wahyu-Nya, yang Alloh mengutus beliau kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, yang menyeru kepada Alloh dengan izin-Nya dan pembawa pelita yang terang benderang. Sholawat dan Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada beliau dan kepada keluarga beliau serta para sahabat beliau yang meniti di atas jalan beliau di dalam berdakwah ke jalan Alloh, yang mereka bersabar di atasnya dan berjihad di dalamnya sampai Alloh memenangkan bagi mereka agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Amma Ba’du :

Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala menciptakan jin dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya, dan untuk mengagungkan perintah dan larangan-Nya serta untuk mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzaariyat : 56)

Dan firman-Nya Azza wa Jalla :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa.”

Dan firman-Nya Azza wa Jalla :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah itu ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS ath-Tholaq : 12)

Alloh Subhanahu menjelaskan bahwa Dia menciptakan makhluk-Nya supaya Ia diibadahi, diagungkan dan ditaati perintah dan larangan-Nya, sebab ibadah adalah mentauhidkan-Nya dan mentaati-Nya disertai dengan pengagungan akan perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya. Alloh Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya yang ada di dalamnya, agar supaya diketahui bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa diantara hikmah keberadaan (eksistensi) makhluk-Nya adalah, supaya Alloh dikenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan Dia Jalla wa ’Ala adalah Maha Berkuasa dan Mengetahui atas segala sesuatu. Demikian pula diantara hikmah penciptaan makhluk dan eksistensi mereka adalah supaya mereka menyembah-Nya, mengagungkan-Nya, mensucikan-Nya dan merendahkan diri di bawah keagungan-Nya.

Sesungguhnya ibadah itu adalah dengan merendahkan diri kepada Alloh Jalla wa ‘Ala dan menghinakan diri di hadapan-Nya. Tugas-tugas berupa perintah (untuk melaksanakan perintah-Nya) dan meninggalkan larangan-Nya yang Alloh perintahkan kepada mukallaf disebut sebagai ibadah, dikarenakan ibadah itu dikerjakan dengan merendahkan dan menghinakan diri di hadapan Alloh Azza wa Jalla.

Kemudian, ketika ibadah itu tidak mungkin dapat ditentukan perinciannya secara bebas oleh akal, sebagaimana tidak mungkin pula akal dapat mengetahui hukum-hukum berupa perintah dan larangan secara terperinci, maka Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci untuk menjelaskan tentang tujuan Alloh menciptakan makhluk, menerangkan serta menguraikan perinciannya kepada manusia, sehingga mereka menyembah Alloh di atas petunjuk yang terang, dan sehingga mereka berhenti dari apa yang Alloh larang bagi mereka di atas petunjuk yang terang pula.

Para Rasul ‘alaihimush Sholatu was Salam, mereka adalah petunjuk bagi makhluk, mereka adalah para a`immatul huda (imam yang memberikan petunjuk) dan da’i bagi seluruh manusia dan jin yang berdakwah kepada ketaatan dan peribadatan hanya bagi Alloh. Alloh Subhanahu pun memuliakan hamba-hamba-Nya dengan eksistensi para Rasul dan menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengutus para Rasul kepada mereka.

Alloh menjelaskan melalui perantaraan para nabi ini jalan yang lurus dan shirathal mustaqim, sampai manusia memperoleh kejelasan akan urusan mereka dan sampai mereka tidak berkata lagi : “Kami tidak tahu apa yang Alloh kehendaki dengan kami, tidak datang kepada kami seorang pembawa berita gembira dan peringatan”, maka Alloh memutuskan dalih apologi ini dan menegakkan hujah dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci, sebagaimana firman Alloh Jalla wa ‘Ala :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut.” (QS an-Nahl : 36)

Dan firman-Nya Subahanahu :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS al-Anbiyaa’ : 25)

Dan firman-Nya Azza wa Jalla :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ

Sesungguhnya kami Telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan)” (QS al-Hadid : 25)

Dan firman-Nya Subhanahu :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ

Manusia itu dulunya adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS al-Baqoroh : 213)

Alloh Subhanahu menjelaskan bahwa Ia mengutus para rasul dan menurunkan kitab suci adalah untuk memberikan keputusan di tengah-tengah manusia dengan al-Haq (kebenaran) dan al-Qisthi (keadilan) dan untuk menerangkan kepada manusia tentang apa yang mereka perselisihkan di dalamnya berupa hukum-hukum dan aqidah serta tauhidullah dan syariat-Nya Azza wa Jalla.

Sesungguhnya firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala : { كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً } ”Manusia itu dulunya adalah umat yang satu”, maksudnya yaitu (manusia dulu) berada di atas al-Haq (kebenaran), mereka tidak berselisih semenjak zaman Adam ’alaihi ash-Sholatu was Salam sampai zaman Nuh… Dahulunya manusia berada di atas petunjuk, sebagaimana diutarakan oleh Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma dan sekelompok dari kaum salaf dan kholaf. Kemudian kaum Nabi Nuh melakukan kesyirikan sehingga mereka saling berselisih tentang perkara yang ada pada mereka dan mereka berselisih tentang kewajiban mereka di dalam memenuhi hak Alloh. Tatkala kesyirikan dan perselisihan ini terjadi, Alloh-pun mengutus Nabi Nuh ’alaihi ash-Sholatu was Salam dan para rasul setelah beliau, sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS an-Nahl : 64)

Alloh menurunkan kitab suci adalah untuk menjelaskan hukum Alloh terhadap segala hal yang manusia perselisihkan, untuk menjelaskan tentang segala hal yang tidak diketahui manusia dan untuk memerintahkan manusia agar mereka komitmen terhadap syariat Alloh dan berhenti pada batasan-batasannya serta melarang manusia dari segala hal yang dapat mencelakai mereka baik di dunia maupun di akhirat.

Alloh Jalla wa ’Ala menutup para rasul dengan rasul yang paling utama, imam mereka dan penghulu mereka, yaitu nabi kita, imam kita dan penghulu kita, Muhammad bin ’Abdillah –semoga shalawat dan salam dari Alloh senantiasa tercurahkan kepada beliau dan kepada para nabi lainnya-, beliau menyampaikan risalah, menunaikan amanah, menasehati ummat, berjihad di jalan Alloh dengan sebenar-benarnya jihad dan menyeru kepada Alloh baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Beliau mengalami kesulitan di jalan Alloh dengan kesulitan yang amat sangat, namun beliau tetap bersabar atasnya sebagaimana para nabi sebelum beliau bersabar –’alaihimush Shalatu was Salam-. Beliau bersabar sebagaimana mereka bersabar, menyampaikan risalah sebagaimana mereka menyampaikan, akan tetapi kesulitan beliau lebih banyak dan kesabaran beliau lebih besar.

Beliau menegakkan tanggung jawab risalah dengan sempurna, semoga Alloh memberikan shalawat dan salam kepada beliau dan para nabi lainnya, beliau menetap selama 13 tahun menyampaikan risalah Alloh dan menyeru kepada-Nya serta menyebarkan hukum-hukum Alloh. Diantaranya selama 13 tahuh beliau di Ummu Quro –Makkah al-Mukarramah-, berdakwah pertama kali dengan sembunyi-sembunyi kemudian secara terang-terangan, menjelaskan kebenaran, lalu beliau dihalang-halangi.

Akan tetapi, beliau tetap bersabar di dalam dakwah dan sabar terhadap gangguan manusia, padahal mereka (kaum kafir) mengakui akan kejujuran dan sifat amanah beliau. Mereka mengakui keutamaan, nasab dan kedudukan beliau, akan tetapi (mereka menolak) dikarenakan hawa nafsu, hasad (dengki) dan penentangan para pembesar mereka, dan dikarenakan kebodohan dan taklid kaum awam mereka. Para pembesar mereka menolak, angkuh dan dengki sedangkan kaum awam mereka bertaklid, membeo dan membebek, sehingga beliau pun –’alaihi ash-Sholatu was Salam– diganggu dengan sebab ini dengan gangguan yang luar biasa.

Firman Alloh Subhanahu berikut ini menunjukkan kepada kita betapa para pembesar (kaum kafir) mengakui kebenaran namun mereka menentangnya, yaitu :

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ

Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), Karena mereka Sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS al-’An’am : 33)

Alloh Subhanahu menjelaskan bahwa mereka bukanlah mendustakan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, bahkan mereka mengetahui akan kejujuran dan sifat amanah Rasul di dalam batin mereka. Mereka dahulu menyebut Nabi sebagai ”al-Amin” (orang yang terpercaya) sebelum beliau ’alaihish Sholatu was Salam diberi wahyu, akan tetapi mereka mengingkari kebenaran dikarenakan dengki dan bersikap aniaya kepada beliau ’alaihish Sholatu was Salam.

Kendati demikian, Nabi ’alaihish Sholatu was Salam tidak peduli dan tidak ambil pusing terhadap hal ini, bahkan beliau tetap sabar, penuh harapan dan terus berjalan. Beliau senantiasa menyeru kepada Alloh Azza wa Jalla dan bersabar atas aral rintangan yang menghadang, bersungguh-sungguh dalam berdakwah dan menangkis segala gangguan dengan kesabaran, menolak segala gangguan yang berasal dari mereka dengan segenap kemampuan, sampai-sampai perkara ini semakin membesar sehingga kaum kafir itu berkeinginan untuk membunuh Nabi ’alaihish Sholatu was Salam.

Maka pada saat itulah Alloh mengizinkan beliau untuk keluar ke Madinah dan beliaupun ’alaihish Sholatu was Salam berhijrah ke sana. Madinah menjadi tempat pemelihara Islam yang pertama dan agama Alloh tampak di dalamnya. Kaum muslimin pun mulai memiliki negara dan kekuatan, Nabi ’alaihish Sholatu was Salam tetap terus berdakwah dan menerangkan kebenaran serta mensyariatkan berjihad dengan pedang.

Beliau mengutus delegasi-delegasi beliau untuk menyeru manusia kepada kebaikan dan petunjuk, dan merekapun memperluas dakwah nabi mereka ’alaihish Sholatu was Salam. Beliau juga mengutus saroya (pasukan ekspedisi kecil) dan turut berperang di dalam peperangan-peperangan yang telah dikenal, sampai Alloh memenangkan agama-Nya melalui perantaraan beliau dan sampai Alloh menyempurnakan agama dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada umat-Nya, kemudian Nabi ’alaihish Sholatu was Salam meninggal dunia setelah Alloh menyempurnakan agama dan setelah beliau ’alaihish Sholatu was Salam menyampaikan risalah yang terang.

Para sahabat beliau memikul amanat sepeninggal beliau, mereka menapaktilasi jalan beliau dan menyeru kepada Alloh Azza wa Jalla. Mereka tersebar di seluruh penjuru dunia sebagai para du’at yang menyeru kepada kebenaran dan para mujahid di jalan Alloh Azza wa Jalla. Mereka tidak takut di jalan Alloh ini, celaan para pencela dan mereka tetap menyampaikan risalah Alloh. Mereka hanya takut kepada Alloh dan tidak takut kepada seorangpun kecuali hanya kepada Alloh Azza wa Jalla.

Mereka tersebar di muka bumi sebagai para mujahidin perang, du’at (penyeru) yang membawa petunjuk dan para shalihin yang melakukan perbaikan. Mereka menyebarkan agama Alloh dan mengajarkan manusia syariat-Nya. Mereka menerangkan aqidah yang Alloh mengutus para Rasul dengannya, yaitu mengikhlaskan ibadah hanya kepada Alloh semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya, baik kepada pepohonan, bebatuan, patung-patung dan selainnya. Tidak berdo’a melainkan hanya kepada Alloh saja, tidak beristighotsah (meminta pertolongan) melainkan hanya kepada Alloh, tidak berhukum kecuali dengan syariat-Nya, tidak sholat kecuali ditujukan untuk-Nya, tidak bernadzar melainkan untuk Alloh… dan perbuatan ibadah lainnya…

Mereka menerangkan kepada manusia, bahwa ibadah itu hanyalah hak Alloh semata. Mereka membacakan ayat-ayat tentangnya, seperti firman Alloh Subhanahu :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ

Wahai sekalian manusia, sembahlah Rabb kalian.”

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ

Dan Tuhanmu telah memutuskan agar supaya kamu tidak menyembah melainkan hanya kepada-Nya

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Janganlah kalian menyeru (berdo’a) sesuatupun disamping Alloh.”

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

”Katakanlah : sesungguhnya sholatku, penyembelihanku, hidup dan matiku hanya untuk Rabb Pemelihara alam semesta.”

لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan yang demikian inilah aku diperintahkan dan aku adalah orang pertama yang berserah diri.”

Mereka bersabar atas dakwah ini dengan kesabaran yang luar biasa dan mereka berjihad di jalan Alloh dengan sebesar-besarnya jihad. Alloh pun ridha terhadap mereka dan mereka juga ridha kepada Alloh.

Para imam pembawa petunjuk dari para tabi’in dan atba’ut tabi’in, baik dari Arab maupun non Arab, turut mencontoh mereka. Mereka meniti jalan ini, yaitu jalan dakwah kepada Alloh Azza wa Jalla. Mereka mengemban tanggung jawab dakwah ini dan menunaikan amanat, diiringi dengan kejujuran, kesabaran dan ikhlas di dalam jihad di jalan Alloh. Mereka memerangi siapa saja yang keluar dari agama-Nya dan orang yang tidak membayar jizyah (upeti) yang telah Alloh wajibkan apabila mereka memang termasuk orang yang wajib membayarnya (kafir dzimmi, pent.). Mereka adalah pengemban dakwah dan imam petunjuk pasca Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam.

Demikianlah para pengikut sahabat dari para tabi’in dan atba’ut tabi’in serta para A`immatul Huda (imam pembawa petunjuk). Mereka meniti jalan ini sebagaimana pendahulu mereka dan mereka bersabar di dalamnya.

Agama Alloh tersebar dan kalimat-Nya menjadi tinggi melalui upaya para sahabat dan para pengikut mereka dari kalangan ahli ilmu dan iman, baik orang ’Arab maupun ’Ajam (non ’Arab), baik dari selatan atau utara Jazirah ini (Jazirah Arab, pent.) maupun dari luar jazirah dari seluruh penjuru dunia. Yang Alloh telah menetapkan atasnya kebahagiaan dan masuk ke dalam agama Alloh, turut bergabung di dalam dakwah dan jihad serta bersabar di atasnya.

Sehingga mereka memiliki kekuasaan, kepeloporan dan kepemimpinan di dalam agama oleh sebab kesabaran, keimanan dan jihad mereka di jalan Alloh Azza wa Jalla. Sungguh benar firman Alloh ini bagi mereka ketika menyebutkan Bani Israil :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan kami jadikan di antara mereka itu para imam yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS as-Sajdah : 24).

Sungguh benar jika hal ini ditujukan bagi para sahabat Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam dan siapa saja yang meniti di atas jalan mereka. Mereka telah menjadi para imam yang memberi petunjuk dan du’at (penyeru) kepada kebenaran serta para figur pemimpin yang diteladani. Disebabkan oleh kesabaran dan keimanan itulah mereka dapat meraih kepemimpinan di dalam agama. Para sahabat Rasul Shallallahu ’alaihi wa Salam dan para pengikutnya yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari ini, mereka adalah para imam, para pemberi petunjuk dan mereka adalah teladan di dalam jalan kebenaran.

Dengan demikian, maka menjadi jelaslah bagi para penuntut ilmu, bahwa dakwah ke jalan Alloh merupakan suatu hal yang paling urgen, dan bahwasanya umat di setiap zaman dan tempat benar-benar sangat membutuhkan kepada dakwah, bahkan kebutuan mereka terhadap dakwah adalah suatu hal yang dharurat (sangat mendesak).

Pembahasan tentang dakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla ini teringkas dalam beberapa poin berikut :

Poin pertama : Hukum dan keutamaan dakwah

Poin kedua : Cara pelaksanaan dakwah dan sarana-sarananya.

Poin ketiga : Penjelasan tentang hal yang didakwahkan

Poin keempat : Penjelasan tentang akhlak (perangai) dan sifat (karakter) yang sepatutnya para da’i berperangai dengannya dan meniti di atasnya.

Maka kami katakan, dan hanya Alloh-lah Dzat yang dimintai pertolongan dan hanya kepada-Nya kita bertawakal serta Dia-lah yang maha menolong lagi memberikan taufiq kepada hamba-hamba-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Poin Pertama :

Penjelasan tentang hukum dakwah kepada Alloh Azza wa Jalla dan keutamaannya

Adapun hukumnya, ada sejumlah dalil dari Kitabullah dan as-Sunnah yang menunjukkan atas wajibnya berdakwah kepada Alloh Azza wa Jalla, dan bahwasanya dakwah itu termasuk kewajiban serta dalil-dalil tentangnya sangatlah banyak. Diantaranya firman Alloh Subhanahu :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ’Imran : 104)

Firman-Nya Jalla wa ’Ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl : 125)

Firman-Nya Azza wa Jalla :

وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan serulah mereka kepada (jalan) Tuhanmu, dan janganlah sekali-sekali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS al-Qashshash : 87)

Dan firman-Nya Subhanahu :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah: Inilah jalanku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Alloh kepada hujjah yang nyata.” (QS Yusuf : 108)

Alloh Subhanahu menjelaskan bahwa para pengikut Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, mereka adalah para du’at yang menyeru kepada Alloh dan mereka adalah ahlul basho`ir (orang-orang yang memiliki hujjah yang nyata, pent.).

Maka merupakan kewajiban –sebagaimana telah maklum- adalah mengikuti beliau dan meniti di atas manhaj beliau ’alaihi ash-Sholatu was Salam, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS al-Ahzaab : 21)

Para ulama menerangkan bahwa dakwah kepada Alloh Azza wa Jalla itu hukumnya fardhu kifayah, selama negeri-negeri itu memiliki para du’at yang tinggal di dalamnya. Karena sesungguhnya setiap negeri dan wilayah, memerlukan dakwah dan memerlukan antusiasme di dalam dakwah. Dengan demikian, dakwah hukumnya fardhu kifayah apabila telah ada orang yang menegakkannya dan jika telah memadai maka gugur kewajiban dakwah bagi lainnya dan dakwah pada saat itu menjadi sunnah mu’akkadah dan termasuk amal shalih yang mulia.

Apabila para penduduk suatu wilayah atau negeri tertentu belum dapat menegakkan dakwah secara sempurna, maka semuanya berdosa dan hukumnya menjadi wajib atas seluruhnya, dan wajib bagi setiap orang untuk menegakkan dakwah sebatas kemampuan dan sebisanya.

Adapun tinjauan terhadap negeri-negeri secara umum, maka wajiblah kiranya ada sekelompok orang yang memiliki andil di dalam menegakkan dakwah kepada Alloh Jalla wa ’Ala di seluruh penjuru dunia, yang menyampaikan risalah Alloh dan menerangkan perintah Alloh Azza wa Jalla dengan segala cara yang memungkinkan. Karena Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam telah mengutus para delegasi dan mengirim surat-surat kepada manusia, kepada kerajaan-kerajaan dan para pembesar, beliau mengajak mereka kepada Alloh Azza wa Jalla.

Di zaman kita sekarang ini, sungguh Alloh azza wa Jalla lebih banyak mempermudah urusan dakwah ini dengan berbagai sarana yang belum pernah ada sebelumnya. Urusan dakwah di zaman ini jauh lebih mudah dengan berbagai sarana dan menegakkan hujjah kepada manusia di zaman ini dapat dilakukan dengan berbagai media yang beraneka ragam, seperti media penyiaran, televisi, cetak… dan media-media lainnya yang bermacam-macam.

Maka wajib bagi ahli ilmu dan iman, dan bagi para penerus Rasul untuk tetap menegakkan kewajiban ini dan saling bahu membahu di dalamnya. Mereka wajib menyampaikan risalah Alloh kepada hamba-hamba-Nya dan janganlah takut dengan celaan para pencela dan jangan pula pilih kasih di dalam dakwah hanya kepada orang tua, anak kecil, orang kaya atua orang miskin saja, namun hendaklah mereka menyampaikan perintah Alloh kepada semua hamba-Nya sebagaimana yang Alloh turunkan dan syariatkan.

Terkadang berdakwah itu hukumnya menjadi fardhu ’ain apabila anda berada di suatu tempat yang tidak ada seorangpun yang melaksanakannya kecuali anda. Seperti amar ma’ruf dan nahi munkar, maka hukumnya adalah fardhu ’ain dan acap kali dakwah itu berubah hukumnya menjadi fardhu kifayah.

Apabila anda berada di suatu tempat yang tidak ada seorangpun yang menyokong urusan ini dan menyampaikan perintah Alloh selain diri anda, maka wajib bagi anda untuk melaksanakannya. Namun apabila ada orang yang menegakkan dakwah dan tabligh, amar ma’ruf dan nahi munkar selain diri anda, maka pada saat itu dakwah merupakan suatu hal yang sunnah bagi anda.

Apabila anda bersemangat dan berantusias di dalam dakwah, maka anda dengan demikian telah berlomba-lomba di dalam kebaikan dan berlomba-lomba di dalam ketaatan. Diantara dalil yang dijadikan sebagai hujjah bahwa dakwah itu fardhu kifayah adalah firman Alloh Jalla wa ’Ala :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan” (QS Ali ’Imran : 104)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata menjelaskan ayat ini yang maknanya sebagai berikut : Hendaklah ada diantara kalian sekumpulan orang yang memberikan andil di dalam urusan yang agung ini, menyeru kepada Alloh dan menyebarkan agama-Nya serta menyampaikan perintah-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Juga suatu hal yang telah diketahui, bahwa Rasulullah ’alaihi ash-Sholatu was Salam berdakwah kepada Alloh dan menegakkan perintah Alloh di Makkah dengan segenap kemampuan beliau. Para sahabat juga turut menegakkan hal ini dengan segenap tenaga mereka, semoga Alloh meridhai mereka semua dan mereka meridhai Alloh.

Kemudian ketika mereka berhijrah, mereka menegakkan dakwah lebih banyak dan lebih luas lagi. Tatkala mereka tersebar di penjuru negeri pasca wafatnya Nabi ’alaihi ash-Sholatu was Salam, mereka juga tetap menegakkan dakwah, semoga Alloh meridhai mereka semua dan mereka meridhai Alloh. Semuanya mereka lakukan dengan segenap kemampuan dan ilmu yang mereka miliki.

Di saat sedikitnya para du’at dan banyaknya kemungkaran serta mendominasinya kebodohan –sebagaimana keadaan kita pada hari ini-, maka dakwah menjadi fardhu ’ain atas setiap orang sebatas kemampuannya.

Apabila seseorang berada di suatu tempat yang terbatas (kecil) seperti di suatu desa, kota atau semisalnya, dan ia mendapatkan adanya orang yang menjalankan dakwah di dalamnya, yang menegakkan dan menyampaikan perintah Alloh, maka hal ini telah memadai dan hukum tabligh bagi orang itu adalah sunnah. Karena hujjah telah ditegakkan dan perintah Alloh telah ditunaikan melalui upaya orang selain dirinya.

Akan tetapi, berkenaan dengan bumi Alloh dan manusia lainnya, maka wajib bagi para ulama dan para penguasa dengan segenap kemampuan mereka, menyampaikan perintah Alloh ke setiap negeri dan setiap orang sebisanya, dan hal ini merupakan fardhu ’ain atasnya sebatas kemampuannya.

Dengan demikian, dapatlah diketahui bahwa dakwah itu bisa jadi berhukum fardhu ’ain dan bisa jadi fardhu kifayah. Hal ini adalah suatu hal yang nisbi (relatif) yang berbeda-beda (menurut keadaannya, pent.). Dakwah kadang kala menjadi fardhu ’ain atas suatu kaum atau individu, dan terkadang pula menjadi sunnah atas individu atau kaum lainnya, dikarenakan didapatkan di tempat atau daerah mereka ada orang yang menegakkan dakwah sehingga telah mencukupi bagi mereka.

Adapun yang berkaitan dengan para penguasa dan orang-orang yang memiliki kemampuan yang lebih luas, maka kewajiban atas mereka lebih banyak. Wajib bagi mereka menyebarkan dakwah ke negeri-negeri yang mereka sanggupi, dengan segenap kemampuan dan dengan segala cara yang memungkinkan, dengan bahasa sehari-hari yang manusia berbicara dengannya. Wajib bagi mereka menyampaikan perintah Alloh dengan bahasa-bahasa tersebut, sehingga tersampaikan agama Alloh kepada semua orang dengan bahasa yang difahaminya, baik dengan bahasa Arab atau selainnya.

Sesungguhnya, dakwah sekarang ini sangat memungkinan dan dimudahkan dengan sarana-sarana yang telah disebutkan sebelumnya. Demikian halnya wajib bagi para khathib –di acara perayaan, perkumpulan ataupun selainnya- untuk menyampaikan segala yang ia sanggupi dari perintah Alloh Azza wa Jalla dan menyebarkan agama Alloh menurut kesanggupan dan sebatas ilmu yang mereka miliki.

Mencermati penyebaran dakwah yang menyeru kepada ideologi yang membinasakan dan kepada ilhad (penistaan agama), yang mengingkari eksistensi Rabb semua makhluk, mengingkari risalah kenabian dan mengingkari akhirat, serta mencermati penyebaran dakwah kristiani di banyak negara dan dakwah-dakwah lain yang menyesatkan. Mencermati ini semua, maka sesungguhnya dakwah kepada Alloh Azza wa Jalla pada hari ini adalah wajib secara umum : wajib bagi seluruh ulama dan para penguasa yang beragama Islam, wajib atas mereka menyampaikan agama Alloh dengan segenap kemampuan dan kekuatan, baik dengan tulisan maupun lisan, dengan media informasi dan semua sarana yang mereka sanggupi, dan janganlah mereka bersikap pasif dan melemparkan tanggung jawab ini kepada Zaid atau ’Amr, karena sesungguhnya yang diperlukan, bahkan sangat mendesak dibutuhkan pada hari ini, adalah adanya ta’awun (saling bekerjasama) dan berserikat serta saling bahu membahu di dalam urusan yang agung ini, lebih banyak daripada sebelumnya.

Karena sesungguhnya musuh-musuh Alloh, mereka saling bahu membahu dan bekerjasama dengan segala sarana yang ada untuk menghalang-halangi dari jalan Alloh, menyebarkan keragu-raguan tentang agama Alloh dan mengajak manusia untuk keluar dari agama Alloh Azza wa Jalla.

Oleh karena itu wajib bagi para pemeluk agama Islam untuk menghadapi antusiasme yang menyesatkan ini. Menghadapi antusiasme mulhid ini dengan antusiasme Islami dan dakwah Islamiyah melalui berbagai macam metoda serta dengan menghimpun berbagai bentuk sarana dan cara yang memungkinkan. Hal ini merupakan bagian pelaksanaan dakwah kepada Alloh yang telah Alloh wajibkan bagi hamba-hamba-Nya.

Keutamaan Dakwah

Banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentang keutamaan dakwah dan keutamaan para du’at, sebagaimana pula dijelaskan di dalam hadits yang menceritakan tentang pengutusan delegasi oleh Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam yang mana hadits-hadits ini tidak tersamar atas ahli ilmu. Diantaranya adalah firman Alloh Jalla wa ’Ala :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang muslim?” (QS Fushshilat : 33)

Ayat yang mulia ini, menunjukkan sanjungan dan pujian terhadap para du’at dan menjelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang lebih baik perkataannya dari mereka. Yang terdepan diantara mereka adalah para rasul ’alaihimush Sholatu was Salam, kemudian para pengikut mereka berdasarkan tingkatan mereka di dalam dakwah, ilmu dan keutamaan.

Maka anda wahai hamba Alloh, cukuplah bagi anda kemuliaan bahwa anda termasuk orang yang meneladani para rasul.

Diantara makna yang terangkai di dalam ayat yang mulia ini :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang muslim?” (QS Fushshilat : 33), adalah makna bahwa tidak ada seorangpun yang lebih baik perkataannya dari seorang da’i, disebabkan karena ia menyeru kepada Alloh, membimbing kepada-Nya dan mengamalkan segala apa yang ia dakwahkan kepada-Nya, yaitu ia mengajak kepada kebenaran dan mengamalkannya, mengingkari kebatilan dan berhati-hati darinya serta meninggalkannya.

Beserta itu pula ia menegaskan keyakinan yang ada pada dirinya tanpa merasa segan, bahwa ia mengatakan : ”sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim”, ia bergembira dan bersuka cita dengan anugerah Alloh yang ada pada dirinya. Bukannya seperti orang yang merasa enggan dan membenci menyebut dirinya sebagai muslim, atau orang yang mengajak kepada Islam hanya karena ingin diperhatikan oleh Fulan atau disikapi baik oleh Fulan, wa Laa haula wa Laa Quwwata illa billah.

Bahkan, seorang mukmin yang berdakwah kepada Alloh adalah orang yang kuat imannya, yang memahami perintah Alloh dan menerangkan hak Alloh, antusias di dalam dakwah ke jalan Alloh dan mengamalkan apa yang ia dakwahkan serta memperingatkan segala yang dilarang Alloh.

Ia adalah orang yang paling bersegera (mengamalkan) apa yang ia dakwahkan dan orang yang paling jauh dari segala yang dilarang. Disamping itu, ia menegaskan bahwa dirinya adalah muslim dan ia menyeru kepada Islam, ia bergembira dan bersuka cita dengannya sebagaimana yang difirmankan Alloh Azza wa Jalla :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus : 58)

Bergembira (Al-Farh) terhadap rahmat dan karunia Alloh dengan kegembiraan yang penuh suka cita dan kebahagiaan adalah perkara yang disyariatkan. Adapun gembira (Al-Farh) yang dilarang adalah kegembiraan karena kesombongan (bangga hati). Kegembiraan seperti ini adalah terlarang sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla yang mengkisahkan tentang Qorun :

لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ

Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS al-Qoshshosh : 76)

Al-Farh (Berbangga hati) di sini adalah kesombongan, merasa tinggi di hadapan manusia dan mengagung-agungkan diri. Kegembiraan seperti inilah yang dilarang.

Adapun Farh (bangga/bergembira) bersuka cita dan berbahagia dengan agama Alloh, farh dengan hidayah Alloh, merasa senang dengannya dan menegaskannya agar diketahui, maka hal ini adalah suatu yang disyariatkan, dipuji dan mulia.

Ayat yang mulia ini termasuk ayat yang paling jelas di dalam menunjukkan keutamaan dakwah, yang menunjukkan bahwa dakwah termasuk qurobat (ibadah/pendekatan diri) yang paling urgen, ketaatan yang paling utama, dan para pelakunya berada di puncak kemuliaan dan kedudukan tertinggi. Yang terdepan diantara mereka adalah para Rasul ’alaihimush Sholatu was Salam, sedangkan Rasul yang paling sempurna di dalam berdakwah adalah imam dan penghulu para Nabi, yaitu Nabi kita Muhammad ’alaihi wa ’alaihim afdhalush Sholati was Salam.

Diantara yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh Jalla wa ’Ala :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

Katakanlah: Inilah jalanku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru kepada Alloh kepada hujjah yang nyata.” (QS Yusuf : 108)

Alloh menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam berdakwah di atas bashiroh (hujjah yang nyata), dan demikian pula dengan para pengikut beliau. Hal ini menunjukkan keutamaan dakwah, dan menunjukkan bahwa para pengikut Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam adalah para du’at (penyeru) yang menyeru kepada jalan-Nya di atas bashiroh.

Al-Bashiroh adalah ilmu (pengetahuan) tentang apa yang didakwahkan dan apa yang dilarang. Hal ini menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang mereka miliki. Nabi yang mulia ’alaihish Sholatu was Salam bersabda di dalam sebuah hadits yang shahih :

من دل على خير فله مثل أجر فاعله

”Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya pahala yang sepadan dengan pelakunya.” (HR Muslim di dalam ash-Shahih)

Dan sabda beliau :

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا

”Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala yang sepadan dengan pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa yang sepadan dengan orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim).

Hadits ini menunjukkan keutamaan dakwah kepada Alloh Azza wa Jalla. Telah shahih pula dari Nabi ’alaihish Sholatu was Salam, bahwa beliau bersabda kepada ’Ali radhiyallahu ’anhu wa ardhohu :

فوالله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم

”Maka demi Alloh! Sekiranya Alloh memberikan petunjuk melalui perantaraanmu kepada seorang lelaki adalah lebih baik bagimu daripada unta merah.” (Disepakati keshahihannya).

Hadits ini juga menunjukkan kepada kita akan keutamaan dakwah kepada Alloh dan yang ada di dalamnya berupa kebaikan yang sangat besar.

Seorang da’i yang berdakwah kepada Alloh Jalla wa ’Ala, akan diberikan pahala yang sepadan dengan orang yang Alloh beri petunjuk melalui perantaraannya. Walaupun orang itu sebanyak ribuan atau jutaan, maka da’i tersebut tetap diberi pahala yang sepadan dengan pahala mereka. Maka mudah-mudahahan kebaikan yang agung ini menyenangkan anda wahai para da’i.

Dengan ini menjadi jelaslah pula bahwa Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam juga mendapatkan pahala yang sepadan dengan para pengikut beliau. Maka ini merupakan nikmat yang agung yang diperoleh nabi kita ’alaihish Sholatu was Salam yang sepadan dengan pahala para pengikut beliau sampai hari kiamat, dikarenakan beliau telah menyampaikan risalah Alloh dan menunjuki umat kepada kebaikan, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada beliau.

Demikian pula dengan para Rasul ’alaihimush Sholatu was Salam, mereka juga mendapatkan pahala yang semisal dengan para pengikut mereka. Juga demikian halnya dengan anda wahai para da’i di setiap zaman, anda akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala para pengikut anda dan orang-orang yang menerima dakwah anda. Maka, jagalah kebaikan ini dan bersegeralah melakukannya.

Poin Kedua :

Cara pelaksanaan dakwah dan sarana-sarananya

Adapun cara dakwah dan sarana-sarananya, maka Alloh Azza wa Jalla telah menjelaskannya di dalam kitab-Nya yang mulia dan di dalam sunnah Nabi-Nya ’alaihish Sholatu was Salam. Ayat yang paling terang tentang hal ini adalah firman Alloh Jalla wa ’Ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl : 125)

Alloh Subhanahu menerangkan cara yang sepatutnya seorang da’i bersifat dengannya dan menggunakannya, dan yang pertama adalah dengan hikmah. Yang dimaksud dengan hikmah adalah dalil-dalil yang memuaskan lagi terang yang dapat menyingkap kebenaran dan membantah kebatilan. Oleh karena itulah sebagian ulama ahli tafsir menafsirkannya dengan ”Al-Qur`an”, karena Al-Qur`an adalah hikmah yang paling agung yang menjelaskan dan menerangkan kebenaran dengan cara yang paling sempurna. Sebagian ulama ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa makna hikmah adalah dengan dalil-dalil Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Betapapun demikian, hikmah itu adalah suatu kata yang agung. Artinya adalah : berdakwah kepada Alloh dengan ilmu dan bashiroh, dan dengan dalil-dalil yang memuaskan yang dapat menyingkap dan menjelaskan kebenaran. Hikmah itu adalah kata yang terhimpun padanya berbagai makna, bermakna nubuwwah (kenabian), bermakna ilmu dan fiqh (pemahaman) agama, bermakna akal, bermakna waro’ (sikap kehati-hatian dari perkara yang haram, pent.) dan makna-makna lainnya.

Namun secara asalnya, sebagaimana diutarakan oleh asy-Syaukani rahimahullahu : perkara yang dapat mencegah dari kebodohan, itulah yang disebut dengan hikmah. Ini artinya bahwa, setiap kata atau ucapan yang dapat menghalangimu dari kebodohan dan mencegahmu dari kebatilan maka itulah hikmah. Demikian pula dengan setiap ucapan yang jelas lagi terang, shahih di dalam ucapannya, dapat disebut dengan hikmah.

Maka, ayat-ayat Al-Qur`an adalah lebih utama disebut dengan hikmah. Juga demikian dengan sunnah Nabi yang shahih, juga lebih utama disebut dengan hikmah setelah Kitabullah, dimana Alloh sendiri telah menyebutnya hikmah di dalam Kitab-Nya yang agung,

sebagaimana firman-Nya Jalla wa ’Ala :

وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Dan yang mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.” Yaitu : As-Sunnah.

Dan sebagaimana di dalam firman-Nya Subhanahu :

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan barangsiapa yang ia beri hikmah, maka sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.”

Dalil-dalil yang terang juga disebut dengan hikmah. Ucapan yang jelas lagi selaras dengan kebenaran disebut juga dengan hikmah, sebagaimana telah lewat pembahasannya.

Termasuk makna hikmah adalah al-Hakamah (tali kekang) yang berada di mulut seekor kuda, yaitu kata hikmah dengan menfathah huruf ha` dan kaaf (baca : hakamah, pent.). Dinamakan demikian dikarenakan hakamah (tali kekang) tersebut akan menahan kuda dari melanjutkan perjalanan apabila penunggangnya menarik hakamah (tali kekang) ini.

Hikmah adalah kata yang dapat menahan orang yang mendengarkannya dari melanjutkan kebatilannya, mengajaknya untuk mengambil kebenaran dan dia terpengaruh dengannya serta ia berhenti pada batasan Alloh Azza wa Jalla.

Maka wajib bagi para da’i agar berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla dengan hikmah, memulai dengannya dan memeliharanya. Apabila mad’u (obyek dakwah) memiliki sifat kasar dan suka menentang, maka dakwah kepadanya adalah dengan mau’izhah hasanah (nasehat yang baik), dan dengan ayat-ayat dan hadits-hadits yang berupa al-Wa’zh (nasehat) dan at-targhib (motivasi).

Apabila mad’u itu memiliki syubhat maka bantahlah dirinya dengan cara yang lebih baik dan jangan bersikap keras padanya, bersabarlah padanya dan jangan tergesa-gesa dan memperlakukannya dengan kasar. Tetapi, bersungguh-sunggahlah anda menyingkap syubhatnya dan menjelaskan dalil-dalilnya dengan cara yang baik.

Beginilah seyogyanya anda bersikap wahai da’i, legawa dan bersabar serta janganlah bersikap keras, karena hal ini lebih dekat di dalam mendapatkan manfaat dan penerimaannya kepada kebenaran serta lebih berpengaruh terhadap mad’u. Dan bersabarlah padanya ketika berdebat dan berdiskusi.

Alloh Azza wa Jalla telah memerintahkan Musa dan Harun ketika Alloh mengutus keduanya kepada Fir’aun, agar berkata kepadanya dengan ucapan yang lembut, padahal Fir’aun adalah seorang yang sangat melewati batas. Alloh Jalla wa ’Ala berfirman di dalam menintahkan Musa dan Harun :

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS Thaha : 44)

Alloh Subhanahu berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali ’Imran : 159)

Dari hal di atas dapat diketahui, bahwa cara yang bijaksana dan jalan yang lurus di dalam dakwah (dapat dipenuhi) apabila seorang da’i bersikap hikmah di dalam dakwahnya, mendalam pemahamannya tentang sarana-sarana dakwah, tidak tergesa-gesa dan tidak pula bersikap bengis, namun ia berdakwah dengan hikmah, yaitu dengan ucapan yang terang dan selaras dengan kebenaran ayat-ayat (Al-Qur`an) dan hadits-hadits, dengan mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik) dan berdebat dengan cara yang lebih baik. Inilah cara-cara yang selayaknya anda gunakan di dalam dakwah kepada Alloh Azza wa Jalla.

Adapun dakwah dengan kebodohan, maka hal ini akan memudharatkan tidak mendatangkan manfaat, sebagaimana akan datang penjelasan hal ini insya Alloh ketika menjelaskan tentang akhlak para da’i. Karena dakwah dengan kebodohan akan dalil-dalilnya sama dengan berkata-kata tentang Alloh tanpa ilmu, demikian pula dakwah dengan sikap bengis dan kasar, lebih banyak mudharatnya.

Sesungguhnya yang wajib dan disyariatkan adalah mengambil apa yang dijelaskan Alloh Azza wa Jalla di dalam surat an-Nahl, yaitu firman-Nya Subhanahu :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (QS an-Nahl : 125)

Kecuali apabila tampak pada mad’u sikap penentangan dan kezhaliman, maka tidak mengapa bersikap keras padanya. Sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ

Hai nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka.” (QS at-Tahriim : 9)

Dan firman Alloh Ta’ala :

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

Dan janganlah kamu berdebat denganAhli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (QS al-Ankabut : 46)

Poin Ketiga :

Penjelasan tentang hal yang didakwahkan

Adapun tentang sesuatu yang didakwahkan, maka wajib bagi para da’i untuk menerangkannya kepada manusia sebagaimana para rasul ’alaihimush Sholatu was Salam menerangkannya. Ia adalah dakwah kepada jalan Alloh yang lurus, ia adalah Islam dan ia adalah agama Alloh yang haq. Inilah dia kedudukan dakwah itu, sebagaimana Alloh Subhanahu :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu (QS an-Nahl : 125)

Sabilullah (jalan Alloh) Azza wa Jalla adalah Islam, Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus) dan agama Alloh yang Ia mengutus nabi-Nya Muhammad ’alaihish Sholatu was Salam dengannya, inilah hal yang wajib didakwahkan, bukannya dakwah mengajak kepada madzhab Fulan ataupun pendapat Fulan, namun dakwah kepada agama Alloh dan kepada jalan Alloh yang lurus, yang Alloh mengutus dengannya nabi dan kesayangan-Nya Muhammad ’alaihish Sholatu was Salam. Ia adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur`an Al-’Azhim dan As-Sunnah al-Muthohharoh yang tsabit (tetap/shahih) dari Rasulullah ’alaihish Sholatu was Salam.

Yang terutama dari ini semua adalah dakwah kepada Aqidah Shahihah (yang benar), dakwah kepada ikhlash lillah dan pentauhidan kepada-Nya di dalam ibadah, mengimani Alloh dan rasul-rasul-Nya dan mengimani hari akhir dan semua yang Alloh dan Rasul-Nya beritakan. Inilah asas jalan yang lurus, yaitu dakwah kepada syahadat Laa Ilaaha illahohu wa anna Muhammadar Rasulullah, yang artinya dakwah kepada pentauhidan Alloh dan ikhlas hanya untuk-Nya, mengimani Alloh dan rasul-rasul-Nya ’alaihimush Sholatu was Salam.

Masuk ke dalam bagian ini adalah dakwah untuk mengimani semua yang diberitakan oleh Alloh dan Rasul-Nya, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi, berita tentang akhirat, kejadian akhir zaman dan selainnya. Masuk juga ke dalam bagian ini adalah dakwah kepada hal-hal yang diwajibkan oleh Alloh berupa pelaksanaan sholat, penunaian zakat, puasa ramadhan dan haji… dan selainnya.

Juga masuk ke dalam bagian ini adalah dakwah kepada jihad fi sabilillah dan amar ma’ruf nahi munkar serta menerima semua yang disyariatkan Alloh, baik di dalam thoharoh, sholat, mu’amalah, pernikahan, tholaq (perceraian), sanksi hukum (kejahatan), nafaqoh, peperangan, perdamaian dan semuanya.

Karena agama Alloh Azza wa Jalla adalah agama yang komprehensif, yang mengandung kemaslahatan bagi hamba baik di dunia maupun akhirat, yang mencakup semua yang dibutuhkan manusia dari urusan agama dan dunia mereka. Agama ini menyeru kepada akhlak yang mulia dan perbuatan yang baik serta melarang dari akhlak yang tercela dan perbuatan yang buruk. Agama ini adalah agama ibadah dan qiyadah (kepemimpinan) yang menjadikan penganutnya sebagai seorang abid (ahli ibadah) dan qo’id (pemimpin) pasukan.

Agama ini adalah ibadah dan hukum, menjadikan penganutnya seorang ’abid yang menegakkan sholat dan berpuasa juga menjadikannya sebagai seorang hakim yang memutuskan dengan syariat Alloh dan melaksanakan hukum-hukum-Nya Azza wa Jalla.

Agama ini adalah ibadah dan jihad, yang menyeru kepada Alloh dan berjihad di jalan Alloh memerangi orang yang keluar dari agama Alloh.

Agama ini adalah siyasah (politik) dan ijtima’ (persatuan), yang menyeru kepada akhlak yang terpuji dan ukhuwwah imaniyah (persaudaraan atas dasar keimanan), yang menghimpun kaum muslimin dan menyatukan mereka, sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Berpegangteguhlah kamu semua kepada tali (agama) Alloh dan janganlah berpecah belah.

Agama Alloh menyeru kepada persatuan dan siyasah (politik) yang lurus lagi bijaksana, yang mempersatukan bukan yang memecah belah, yang mengeratkan (hati) bukan yang menjauhkan, dakwah yang menyeru kepada kemurnian hati dan menghormati persatuan Islamiyah, saling tolong menolong di dalam kebajikan dan ketakwaan serta menasehati untuk Alloh dan bagi hamba-hamba-Nya.

Agama ini juga menyeru untuk menunaikan amanah dan berhukum dengan syariat serta meninggalkan berhukum selain dengan hukum Alloh Azza wa Jalla, sebagaimana firman Alloh Subhanahu :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS an-Nisaa` : 58)

Agama ini juga merupakan agama yang mengatur siyasah dan iqtishad (sistem ekonomi). Sebagaimana agama ini mengatur siyasah, peribadatan dan jihad, agama ini juga menyeru kepada sistem ekonomi syar’i yang mutawasith (pertengahan), tidak seperti sistem kapitalisme yang menindas lagi zhalim, tidak mempedulikan keharaman dan mengumpulkan harta dengan segala cara dan segala jalan.

Tidak pula seperti sistem sosialisme yang komunis yang tidak menghargai harta manusia dan tidak mempedulikan tindakan pemerasan, kezhaliman dan permusuhan terhadap mereka. Sistem Islam bukanlah sistem ini dan ini, namun Islam adalah sistem yang pertengahan diantara dua bentuk sistem perekonomian tersebut, pertengahan diantara dua metode dan yang haq diantara dua kebatilan.

Orang barat (Eropa) begitu mengagungkan harta dan berlebih-lebihan di dalam mencintai dan mengumpulkannya, sampai-sampai mereka mengumpulkan harta dengan segala cara dan berjalan di atas apa yang diharamkan Alloh Azza wa Jalla. Sedangkan masyarakat timur yang komunis seperti Soviet dan negara lainnya yang mengikuti metode mereka, tidak menghargai harta manusia. Mereka merampas dan menghalalkannya dan mereka tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Mereka memperbudak rakyat dan menindas bangsa, serta mengkufuri Alloh dan mengingkari agama.

Mereka mengatakan : “Tuhan itu tidak ada dan dunia ini hanyalah materi”, sehingga mereka tidak peduli dengan harta dan tidak menaruh perhatian dengan mengambil harta tidak pada tempatnya. Mereka juga tidak menaruh perhatian dengan sarana-sarananya yang dapat melanggengkan dan menguasai harta, yang mempersatukan manusia dengan apa yang Alloh ciptakan bagi mereka berupa haknya untuk memperoleh dan memanfaatkan hasil usahanya, dan memetik faidah dari kemampuan mereka dan akal mereka, serta anugerah yang Alloh berikan padanya berupa alat perkakas. Tidak pula begini dan begini…

Islam datang mengajarkan untuk memelihara harta dan mengusahakannya dengan cara-cara yang syar’i, jauh dari kezhaliman, penipuan dan riba, dan jauh dari perbuatan zhalim dan aniaya terhadap manusia. Islam juga mengajarkan penghormatan terhadap kepemilikan (properti) pribadi maupun bersama.

Islam itu pertengahan di antara dua aturan, dua sistem dan dua metode yang menindas. Islam membolehkan (memiliki) harta dan mengajak padanya, menyeru untuk mengusahakannya dengan cara-cara yang bijaksana, tanpa menyibukkan orang yang berusaha memperolehnya dari ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan dari memenuhi kewajiban Alloh atasnya. Oleh karena itulah Alloh Azza wa Jalla berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta diantara kalian dengan cara yang batil.”

Nabi ‘alaihish Sholatu was Salam bersabda :

كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه

“Setiap muslim dengan muslim lainnya, haram darah, harta dan kehormatannya.”

Dan sabda beliau :

إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian, haram atas kalian sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini dan di negeri kalian ini.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

لأن يأخذ أحدكم حبله فيأتي بحزمة من حطب على ظهره فيبيعها فيكف بها وجهه خير له من سؤال الناس أعطوه أو منعوه

“Sungguh salah seorang diantara kalian mengambil pengikatnya dan datang dengan seikat kayu bakar yang dipanggul di atas punggungnya kemudian menjualnya, dan memenuhi kebutuhannya dengannya adalah lebih baik baginya ketimbang minta-minta kepada manusia yang ada memberinya dan ada yang tidak memberinya.”

Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam pernah ditanya :

أي الكسب أطيب؟ فقال: “عمل الرجل بيده وكل بيع مبرور »

”Pekerjaan apa yang paling baik?” Beliau menjawab : “Seorang lelaki yang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur (baik)”

Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

ما أكل أحد طعاما أفضل من أن يأكل من عمل يده وكان نبي الله داود يأكل من عمل يده

“Tidak ada seorang yang memakan makanan lebih baik daripada orang yang memakan dari hasil jerih payah tangannya sendiri, dahulu Nabiyullah Dawud memakan dari hasil jerih payah tangannya sendiri.”

Dari sini menjadi jelas bagi kita, bahwa sistem Islam tentang (pengaturan) harta adalah sistem yang pertengahan, bukan sistem kapitalis yang zhalim dari Barat dan para pengikutnya, dan bukan pula sistem sosialis komunis yang membolehkan penjarahan harta dan menyia-nyiakan kehormatan pemiliknya dan mereka tidak peduli, mereka memperbudak bangsa dan meniadakan (hak kepemilikan) harta serta menghalalkan apa yang diharaman Alloh.

Padahal, apa yang anda usahakan dan anda cari dengan cara-cara yang syar’i maka itu adalah hak anda. Anda lebih utama sebagai pemilik harta dari jerih payah yang anda cari dengan jalan yang disyariatkan oleh Alloh, dan Alloh Azza wa Jalla sendirilah yang membolehkannya.

Islam juga turut menyeru kepada persaudaraan atas dasar iman (Ukhuwah Imaniyah), menyeru kepada nasehat bagi Alloh dan hamba-hamba-Nya serta menyeru kepada penghormatan muslim terhadap saudaranya, tanpa ada rasa dengki, iri hati, penipuan dan khianat serta akhlak-akhlak tercela lainnya, sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Kaum mukmin dan mukminat, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian lainnya.

Alloh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya, orang-orang yang beriman itu bersaudara.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يحقره ولا يخذله

”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak menzhaliminya, mencemoohnya dan tidak pula menghinakannya.”

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Wajib atasnya menghormati saudaranya dan tidak mencemoohnya. Wajib atasnya bersikap adil padanya dan menunaikan haknya dalam semua aspek yang telah Alloh Azza wa Jalla syariatkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

”Mukmin yang satu dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang satu dengan lainnya saling menguatkan.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

المؤمن مرآة أخيه المؤمن

”Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang mukmin.”

Maka anda wahai saudaraku, adalah cermin bagi saudara anda. Anda adalah salah satu bagian dari batu bata yang dengannya akan berdiri bangunan persaudaraan di atas dasar iman (ukhuwwah imaniyyah). Maka bertakwalah di dalam hak saudara anda, ketahuilah haknya dan berinteraksilah dengannya dengan kebenaran, nasehat dan kejujuran.

Anda haruslah mengambil Islam itu secara keseluruhan, jangan mengambil satu sisi namun meninggalkan sisi lainnya. Jangan mengambil masalah aqidah namun anda tinggalkan masalah hukum dan amal. Jangan mengambil masalah amal dan hukum namun anda tinggalkan masalah aqidah. Namun, ambillah Islam secara keseluruhan, ambillah aqidah, amalan, ibadah, jihad, persatuan, politik, sistem ekonomi dan selainnya. Ambillah semua aspeknya sebagaimana firman Alloh Subhanahu :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama (Islam) secara keseluruhan. Dan janganlah kalian menuruti langkah-langkah syaithan karena sesungguhnya syaitah itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Sekelompok ulama salaf berkata menjelaskan makna ayat di atas : Masuklah kalian ke dalam agama (as-Silmi = kedamaian) dalam semua hal, yaitu ke dalam Islam. Dikatakan Islam itu memiliki makna silm (damai/selamat), karena Islam itu merupakan jalan keselamatan dan jalan kesukesan di dunia dan akhirat, yaitu Silm dan Islam. Islam itu mengajak kepada as-Silm (kedamaian) dan mengajak kepada perlindungan darah dengan hal-hal yang disyariatkan berupa hudud, qishash dan jihad syar’i yang benar. Ia adalam silm dan Islam serta Amnu (keamanan) dan Iman.

Untuk itulah Alloh Jalla wa ’Ala berfirman :

ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Masuklah kalian ke dalam agama (Islam) secara keseluruhan.

Yaitu, masuklah kalian ke dalam keseluruhan cabang-cabang iman, janganlah kalian mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Wajib bagi kalian mengambil Islam secara keseluruhan.

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

Janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan.”

Yaitu, kemaksiatan yang Alloh Azza wa Jalla telah mengharamkannya karena sesungguhnya syaithan itu mengajak kepada kemaksiatan dan mengajak untuk menginggalkan agama secara keseluruhan. Ia (syaithan) adalah musuh yang paling memusuhi, oleh karena itulah wajib bagi seorang muslim untuk berkomitmen dan berpetunjuk dengan Islam secara keseluruhan dan berpegang teguh dengan tali Alloh Azza wa Jalla serta berhati-hati dari sebab-sebab perpecahan dan perselisihan dalam semua bentuknya.

Wajib bagi anda berhukum dengan syariat Alloh, baik di dalam ibadah, mu’amalah, nikah dan tholaq (perceraian), nafaqoh, ar-Rodho’ (persusuan), perdamaian dan peperangan, (bersikap terhadap) musuh dan teman, jinayah (sanksi hukum pelanggaran) dan semua hal.

Agama Alloh mewajibkan untuk berhukum dalam segala hal. Jauhilah oleh anda sikap memberikan loyalitas kepada saudara anda dikarenakan ia menyetujuimu dalam suatu hal dan anda memusuhi orang lain hanya karena dirinya menyelisihi anda dalam beberapa pemikiran atau masalah. Karena hal ini bukanlah termasuk sikap inshaf (adil).

Para sahabat radhiyallahu ’anhum pernah berselisih di dalam beberapa masalah, walau demikian hal ini tidak mempengaruhi mereka di dalam persahabatan, muwalah (loyalitas) dan mahabbah (kecintaan) diantara mereka radhiyallahu ’anhum wa ardhohum.

Seorang yang beriman, dia akan beramal menurut syariat Alloh dan beragama dengan cara yang benar serta mempersembahkannya kepada setiap orang dengan dalil. Kendati demikian, ia tidak boleh menjadikan hal ini untuk menzhalimi saudaranya dan bersikap tidak adil padanya apabila saudaranya itu menyelisihi pendapatnya di dalam permasalahan ijtihadiyah yang seringkali dalilnya masih samar.

Demikian pula di dalam permasalahan yang acap kali perselisihannya disebabkan oleh penakwilan nash, maka terkadang ia perlu diberi ’udzur (dimaklumi kesalahannya). Yang wajib bagi anda adalah menasehatinya dan mencintai kebaikan yang ia miliki, janganlah anda menjadikan hal ini sebagai alasan untuk bermusuhan dan bertikai dengannya, yang hal ini menyebabkan musuh anda dan musuh saudara anda menjadi semakin kuat, La haula wa laa quwwata illa billah.

Islam adalah agama keadilan dan agama yang menghukumi dengan al-Haq dan al-Ihsan (kebaikan) serta agama persamaan, melainkan yang Alloh Azza wa Jalla perkecualikan (dari persamaan tersebut). Islam mengajarkan untuk berdakwah kepada setiap kebaikan, berdakwah kepada akhlak yang mulia dan amal yang baik, kepada sikap inshaf dan keadilan serta jauh dari setiap perangai yang tercela. Alloh Ta’ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS an-Nahl : 90)

Dan firman-Nya Ta’ala ;

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kesimpulan :

Merupakan kewajiban bagi setiap da’i islam untuk berdakwah menyeru kepada Islam secara keseluruhan dan tidak memecah belah manusia, tidak menjadi orang yang fanatik (muta’ashshib) kepada madzhab tertentu, atau kabilah tertentu, atau fanatik kepada syaikhnya, atau kepada pemimpinnya, atau selainnya. Namun yang wajib baginya adalah menjadikan tujuannya adalah untuk menetapkan kebenaran dan menjelaskannya, menjadikan manusia lurus berada di atas kebenaran, walaupun menyelisihi pendapat Fulan atau Fulan atau Fulan.

Tatkala orang yang fanatik terhadap suatu madzhab mulai tumbuh berkembang di tengah masyarakat, dan mengatakan bahwa sesungguhnya madzhabnya Fulan lebih utama ketimbang madzhabnya Fulan, maka datangnya perpecahan dan perselisihan. Sampai-sampai hal ini mulai menguasai manusia dan menyebabkannya tidak mau lagi sholat bersama orang yang berbeda madzhab dengannya. Seorang Syafi’iy tidak mau sholat di belakang Hanafiy, seorang Hanafiy tidak mau sholat di belakang Maliki dan tidak pula di belakang Hanbali, dan demikianlah hal ini terjadi pada sebagian orang yang berlebih-lebihan lagi fanatik. Hal ini termasuk bala` (malapetaka) dan bagian dari mengikuti langkah-langkah syaithan.

Para imam pembawa petunjuk seperti Syafi’i, Malik, Ahmad, Abu Hanifah, Auza’i, Ishaq bin Rahawaih dan selain mereka, mereka semua adalah para imam pembawa petunjuk dan penyeru kebenaran. Mereka menyeru manusia kepada agama Alloh dan mengarahkan mereka kepada kebenaran. Ada beberapa masalah yang terjadi di tengah-tengah mereka yang mereka perselisihkan, yang disebabkan masih tersamarnya dalil pada sebagian mereka. Namun mereka berada di antara seorang mujtahid yang benar ijtihadnya dan mendapatkan dua pahala dengan seorang mujtahid yang keliru menyelisihi kebenaran namun mendapatkan satu pahala.

Maka wajib bagi anda mengetahui kedudukan dan keutamaan mereka, mendoakan rahmat bagi mereka dan mengakui bahwa mereka adalah para imam Islam dan du’atul huda (para penyeru kepada petunjuk). Namun, hal ini tidaklah sampai menyebabkan anda menjadi ta’ashshub (fanatik) dan taqlid buta, sampai-sampai anda berpendapat bahwa madzhab Fulan lebih utama di dalam kebenaran dalam segala sesuatunya, atau madzhab Fulan lebih utama di dalam kebenaran pada tiap segala sesuatunya tanpa ada kesalahan. Tidak, ini sungguh merupakan kesalahan!

Wajib bagi anda menerima kebenaran dan mengikutinya apabila telah jelas dalilnya walaupun menyelisihi Fulan dan Fulan. Janganlah anda bersikap fanatik dan bertaqlid buta, namun kenalilah keutamaan dan kedudukan para imam tersebut, dengan tetap disertai sikap hati-hati untuk menjaga diri anda dan agama anda.

Maka ambillah yang benar dan ridha-lah dengannya, tunjukilah kepadanya apabila ada orang yang meminta kepada anda. Takutlah anda kepada Alloh dan bermuroqobah-lah (merasa diawasi) kepada-Nya Jalla wa ’Ala serta bersikap adillah dengan diri anda disertai dengan keyakinan bahwa kebenaran itu hanyalah satu, dan bahwasanya ulama mujtahid apabila mereka benar, mereka mendapatkan dua pahala dan apabila merela salah mendapatkan satu pahala. Mereka yang saya maksudkan adalah ulama mujtahid ahlus sunnah, ahlul ilmi, ahlul iman dan ahlul huda, sebagaimana telah shahih berita dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam tentang hal ini.

Maksud dan Tujuan Dakwah

Adapun maksud dan tujuan dakwah, diantaranya adalah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, menunjuki mereka kepada kebenaran sampai mereka mau menerimanya, sehingga mereka akan selamat dari neraka dan murka Alloh. Mengeluarkan seorang yang kafir dari kegelapan kekafiran kepada cahaya dan petunjuk, mengeluarkan seorang yang jahil dari kegelapan kejahilan kepada cahaya ilmu dan mengeluarkan seorang yang bermaksiat dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan. Inilah maksud dari dakwah, sebagaimana firman Alloh Jalla wa ’Ala :

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (QS al-Baqoroh : 257)

Para Rasul diutus untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Demikian pula dengan para du’at (penyeru) kebenaran, mereka menegakkan dakwah dan antusias di dalam melaksakannya adalah dalam rangka untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, menyelamatkan mereka dari siksa neraka dan dari ketaatan kepada syaithan, serta menyelamatkan manusia dari ketaatan kepada hawa nafsu menuju ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya.

Poin Keempat :

Penjelasan tentang akhlak (perangai) dan sifat (karakteristik) yang sepatutnya para da’i berperangai dengannya dan meniti di atasnya.

Adapun akhlak dan karakter yang seharusnya dimiliki oleh para du’at, maka Alloh Jalla wa ’Ala telah menjelaskannya di dalam banyak ayat di dalam beberapa tempat di dalam kitab-Nya yang mulia. Diantaranya adalah :

Pertama : Ikhlas. Wajib bagi setiap da’i untuk mengikhlaskan diri kepada Alloh Azza wa Jalla, bukan karena keinginan untuk riya’ (pamer supaya dilihat orang) dan sum’ah (pamer supaya didengar orang) dan bukan pula untuk mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Hanya saja ia berdakwah kepada Alloh untuk mengharap wajah Alloh Jalla wa ’Ala semata, sebagaimana firman Alloh Subhanahu :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

Katakanlah: Inilah jalanku, Aku menyeru hanya kepada Alloh.”

Dan firman-Nya :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang mengajak kepada Alloh.

Maka wajib bagi anda untuk mengikhlaskan diri kepada Alloh Azza wa Jalla, dan hal ini merupakan akhlak yang paling penting dan sifat yang paling agung yang seharusnya anda gunakan di dalam dakwah anda, yang anda hanya mengharap wajah Alloh dan negeri akhirat.

Kedua : Dakwah juga harus dengan ilmu, karena ilmu itu merupakan kewajiban. Jauhilah berdakwah dengan kebodohan dan berkata-kata dengan sesuatu yang tidak anda ketahui. Sesungguhnya kebodohan itu akan menghancurkan tidak bisa membangun dan merusak tidak bisa membenahi.

Maka bertakwalah kepada Alloh wahai hamba Alloh, jauhilah berbicara tentang Alloh tanpa ilmu, dan janganlah anda berdakwah mengajak kepada sesuatu kecuali setelah anda mengetahui ilmu dan bashiroh (hujjah yang nyata) dari apa yang difirmankan Alloh dan disabdakan Rasul-Nya.

Dakwah haruslah dengan bashiroh, yaitu ilmu. Maka wajib bagi penuntut ilmu dan da’i untuk menggunakan bashiroh ketika berdakwah dan mencermati apa yang ia dakwahkan dengan dalil-dalilnya. Apabila telah jelas baginya kebenaran dan ia mengetahui kebenaran maka hendaklah ia berdakwah menyeru kepadanya, baik itu berupa perbuatan untuk mengamalkan atau meninggalkan, yaitu berdakwah kepada pengamalan apabila merupakan ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya, dan berdakwah kepada meninggalkan apa yang dilarang Alloh dan Rasul-Nya di atas petunjuk dan bashiroh.

Ketiga : Anda haruslah berlemah lembut dan ramah di dalam dakwah anda dan bersabar sebagaimana sabarnya para rasul ’alaihimush Sholatu was Salam. Jauhilah sikap terburu-buru, bengis dan keras. Wajib bagi anda bersikap sabar, lemah lembut dan ramah di dalam dakwah anda. Telah berlalu bagi anda beberapa dalil yang menunjukkan hal ini, seperti firman Alloh Jalla wa ’Ala :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Dan Firman-Nya Subhanahu :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka.”

Dan firman-Nya Jalla wa ’Ala di dalam kisah Musa dan Harun :

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

Di dalam sebuah hadits shahih, Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

« اللهم من ولي من أمر أمتي شيئا فرفق بهم فارفق به ومن ولي من أمر أمتي شيئا فشق عليهم فاشقق عليه

”Ya Alloh, siapa saja yang mengatur sesuatu dari urusan ummatku dan ia bersikap lemah lembut kepada mereka maka bersikap lemah lembutlah padanya dan siapa saja yang mengatur sesuatu dari urusan ummatku dan ia bersikap kasar kepada mereka maka bersikap kasarlah pada dirinya.” Dikeluarkan oleh Muslim di dalam shahih-nya.

Maka wajib bagi anda wahai hamba Alloh, untuk bersikap lemah lembut di dalam dakwah anda dan jangan bersikap kasar kepada manusia. Janganlah anda menyebabkan mereka lari dari agama dan menyebabkan mereka lari dikarenakan sikap keras dan kejahilan anda, dan jangan pula dengan cara yang bengis yang malah menimbulkan madharat.

Anda wajib bersikap ramah dan bersabar serta berkata dengan lembut, halus dan baik sehingga mempengaruhi hati saudara anda dan mempengaruhi hati mad’u anda. Sehingga dia menjadi ramah dan bersikap lembut dengan dakwah anda serta terpengaruh dengannya, dan ia pun memuji anda dan berterima kasih kepada anda atas dakwah yang telah anda berikan padanya. Adapun sikap bengis, maka sikap ini hanya akan menyebabkan orang lari dari dakwah bukannya malah mendekatkan dan ia akan memecah belah bukannya mempersatukan.

Diantara akhlak dan karakter yang sepatutnya –bahkan wajib- dimiliki oleh seorang da’i adalah : hendaklah ia mengamalkan ilmunya dan ia dapat menjadi teladan yang shalih di dalam dakwahnya, bukan menjadi orang yang mengajak kepada sesuatu namun ia meninggalkannya, atau melarang dari sesuatu namun ia melakukannya. Ini adalah keadaan orang-orang yang merugi, na’udzu billahi min dzalik.

Adapun orang-orang mukmin yang beruntung, maka mereka adalah para da’i yang menyeru kepada kebenaran dan mengamalkannya lagi antusias dan bersegera di dalam mengamalkannya serta menjauhi segala apa yang dilarang. Alloh Azza wa Jalla berfirman :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaaf : 2-3)

Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahwasanya beliau bersabda :

يؤتى بالرجل يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتاب بطنه فيدور فيها كما يدور الحمار بالرحى فيجتمع عليه أهل النار فيقولون له يا فلان ما لك؟ ألم تكن تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول بلى كنت آمركم بالمعروف ولا آتيه وأنهاكم عن المنكر وآتيه

“Pada hari kiamat, didatangkan seorang pria kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka hingga usus-ususnya keluar terburai dari perutnya, lalu ia berputar-putar di dalamnya sebagaimana seekor kedelai berputar mengitari penggilingan. Para penghuni neraka pun berkumpul dan berkata kepada orang itu : wahai Fulan, apa gerangan yang terjadi denganmu? Bukankah kamu dulu senantiasa beramar ma’ruf nahi munkar? Ia menjawab : betul, aku dulu memerintahkan kepada yang ma’ruf namun aku tidak melaksanakannya dan aku melarang dari yang munkar namun aku mengerjakannya.”

Ini adalah keadaan orang yang berdakwah kepada Alloh, beramar ma’ruf dan nahi munkar kemudian perbuatannya menyelisihi ucapannya dan ucapannya menyelisihi perbuatannya, na’udzu billahi min dzalik.

Termasuk akhlak yang paling penting dan paling agung yang harus dimiliki seorang da’i adalah ia harus mengamalkan apa yang ia dakwahkan dan meninggalkan apa yang ia larang. Hendaklah ia menjadi orang yang berakhlak mulia dan berperangai terpuji, yang sabar dan senantiasa menjaga kesabarannya, yang ikhlas di dalam dakwahnya dan bersungguh-sungguh di dalam menyampaikan kebaikan kepada manusia dan menjauhkan mereka dari kebatilan, disamping itu juga mendoakan hidayah bagi mereka.

Hal ini termasuk akhlak yang terpuji, yaitu mendo’akan mereka untuk mendapatkan hidayah dan mengatakan kepada mad’u : Hadakallohu (semoga Alloh memberi anda pentunjuk), wafaqokallohu liqobuulil haq (semoga Alloh memberikan taufiq-Nya kepada anda di dalam menerima kebenaran), a’aanakallohu ‘ala qobuulil haq (semoga Alloh menolong anda untuk menerima kebenaran).

Anda mendakwahinya, menunjukinya dan bersabar atas aral rintangan, selain itu anda juga mendo’akannya dengan hidayah.

Nabi ‘alaihish Sholatu was Salam bersabda ketika ada yang mengatakan bahwa suku Daus telah berlaku durhaka :

اللهم اهد دوسا وائت بهم

“Ya Alloh tunjukilah Daus dan berikan petunjuk-Mu kepada mereka.”

Anda do’akan mereka hidayah dan taufiq untuk menerima kebenaran, bersabar dan tetaplah bersabar di dalam dakwah, janganlah anda putus harapan dan putus asa, dan jangan pernah anda mengatakan kecuali yang baik. Janganlah anda bersika bengis dan mengucapkan perkataan yang buruk yang dapat menyebabkan mereka lari dari kebenaran. Akan tetapi terhadap orang yang zhalim dan berbuat aniaya, maka ini masalahnya lain lagi, sebagaimana firman Alloh Jalla wa ‘Ala :

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ

“Janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali kepada orang-orang yang zhalim di antara mereka.”

Adapun orang zhalim yang menghadapi dakwah dengan keburukan, penentangan dan gangguan, maka memiliki hukum lain. Apabila memungkinkan, mendidiknya dengan cara dipenjara atau selainnya, dan mendidiknya itu haruslah menurut tingkatan kezhalimannya. Akan tetapi, apabila ia berhenti dari memberikan gangguan maka wajib bagi anda bersabar atasnya, mengharap (kebaikan atasnya) dan mendebat dirinya dengan cara yang baik serta memaafkan sebagian gangguan yang berkenaan dengan pribadi anda sebagaimana para rasul dan para pengikut mereka bersabar dengan lebih baik.

وأسأل الله عز وجل أن يوفقنا جميعا لحسن الدعوة إليه، وأن يصلح قلوبنا وأعمالنا، وأن يمنحنا جميعا الفقه في دينه، والثبات عليه، ويجعلنا من الهداة المهتدين، والصالحين المصلحين، إنه جل وعلا جواد كريم.

Saya memohon kepada Alloh Azza wa Jalla agar memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar berdakwah dengan cara yang baik, dan agar Alloh meluruskan hati dan amal-amal kita serta menganugerahkan kepada kita pemahaman di dalam agama dan komitmen di atasnya. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk orang yang mendapatkan petunjuk lagi menunjuki dan orang yang shalih lagi membenahi, sesungguhnya Ia adalah Maha Mulia lagi Maha Tinggi, yang Maha Berkuasa lagi Maha Mulia.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد، وعلى آله وأصحابه، وأتباعه بإحسان إلى يوم الدين.

Semoga shalawat, salam dan keberkahan senantiasa tercurahkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat.

10 Comments »

  1. venty Said,

    March 1, 2010@ 5:51 pm      

    Tulisan yang menarik kawand.. para Da’i hendaknya membaca…


RSS feed for comments on this post

Leave a Comment