Awali Dengan Kesungguhan (Lengkap)

Diadopsi dari situs Belajarislam.com..Semoga Banyak memberikan manfaat.

Awali Dengan Kesungguhan (Bagian 1)

“Engkau tidak akan pernah meraih kemuliaan sampai engkau memakan buah shabira (buah yang sangat pahit)…”.

Heran, kagum, bangga pada saat kita mendengar ustadz kita membacakan biografi para ulama, mereka kebanyakan hafal alqur’an sebelum baligh, memiliki, pemahaman begitu luas dan mendalam diusia yang relatif belia, bahkan kadang mereka mengawali keberhasilan hidup ini dengan keterbatasan yang sangat, seperti Qatadah RA seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in yang dilahirkan dalam keadaan buta, syaikh ibn Baz yang mengalami kebutaan sejak waktu mudanya, begitu juga pada saat kita mengikuti pelatihan entrepreneur maka kita akan dimotivasi dengan segolongan orang yang berhasil dalam bisnis usaha mereka, keberhasilan di dunia ini juga Allah berikan kepada seluruh hambanya baik mukmin ataupun kafir, mungkin kita pernah mendengar nama Theodore Roosevelt mantan presiden AS yang terkenal sebagai pemanah dan pemburu ulung walaupun buta sebelah. Ada juga Sir Winston Churchil perdana menteri inggris yang sangat terkenal serta orator ulung tapi ternyata dia tidak bisa mengucapkan huruf “s”. Dari tokoh mu’tazilah juga ada Washil ibn ‘Atha yang tidak bisa mengucapkan huruf “r”. Tentu ini adalah kekurangan yang dirasa cukup berat karena setiap ceramah mereka harus menghindari huruf-huruf tersebut. Di Rusia ada juga Tolstoy tokoh sastra yang sempat menjadikan guru-gurunya putus asa karena saking bodohnya bahkan ada yang mengatakan dia ediot. Wahai saudaraku… ada yang perlu kita ketahui bahwasanya rasa heran, kagum, dan bangga pada saat kita mendengar keberhasilan mereka tidaklah cukup untuk menjadikan kita seperti mereka.. ya kan?

Disinilah coba akan ana bocorkan apa yang menjadi rahasia terpenting dalam keberhasilan mereka, dan ana yakin sekali mereka suka-suka saja disebarkan apa yang menjadi rahasia mereka ini.Hal yang pertama dan utama setalah kita mendengar sosok teladan kita dengan seabrek keberhasilannya dan kita memang ingin mengikuti jejak mereka, maka itulah momentum pertama yang sangat tepat untuk kita mengawalinya, ya…kita harus mengawali secepatnya, karena anak kecil saja langsung bergaya RAMBO setelah menyaksikan aksi kepahlawanan di film, yang secara naluri ini menunjukan bahwa setiap orang tidak akan pernah merasa cukup sebagai penonton, cuma kalau anak-anak akan selalu terlihat pantas saja meniru apapun yang di idolakan, yang ini tentu akan berbeda dengan kita dong…   biar kita tidak dikatakan anak-anak lagi maka harus ada pembeda dengan mereka, yaitu SERIUS dan KESUNGGUHANLAH yang membedakan kita dengan mereka. Dengan kesungguhanlah setiap kita akan bisa meraih obsesi kita biidznillah, orang buta itu bisa jadi ulama, penggembala kambing jadi pemimpin, orang fakir mennjadi kaya raya, orang yang tidak dikenal menjadi legendaris,  anak yang tidak lulus kuliah bisa sukses. Berbanggalah kita sebagai orang yang berserah diri kepada Rabb pemilik alam semesta ini, karena untuk setiap muslim dalam menjalani kehidupan ini  senantiasa dibimbing dengan wahyu yang tidak ada keraguan sedikitpun akan kebenaran dan kelurusannya, sehingga optimisme akan suatu keberhasilan benar-benar bisa tervisualisasikan dimata. Serius dan kesungguhan sebagai kunci tunggal yang sangat menentukan untuk meraih kesuksesan, telah diperintahkan oleh Allah Subhanahuwata’ala dan RasulNya serta telah dibuktikan oleh orang-orang sebelum kita sehingga prestasi dan nama-nama mereka harum semerbak terukir indah dijagad raya ini.

Dalil-dalil dari Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk serius dan bersunguh-sungguh:
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah : 63)
“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (QS. Maryam : 12)

Kedua ayat ini memerintahkan kita untuk memegang apa yang Allah berikan kepada kita dengan kuat, walaupun secara tekstual firman kedua ditujukan kepada Nabi Yahya ‘alaihissalam akan tetapi ini berlaku pula untuk nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwasalam dan umatnya karena pelajaran diambil dari keumuman redaksinya, yaitu perintah memegang ajaran ini dengan kuat yaitu sungguh-sungguh dan serius
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS. Al-Muzammil : 5)

Perkataan yang berat karena agama ini tidak cukup menjadi hiasan bibir akan tetapi mewajibkan kita untuk merealisasikan dalam amal, sehingga orang-orang yang bersungguh-sungguhlah yang mampu membawa agama ini dengan benar
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Alam Nasyrah : 7)

Dalam  ayat yang mulia ini seakan-akan Allah tidak memberikan waktu kepada kita untuk istirahat atau bersantai-santai, akan tetapi harus mengiringi setiap tarikan nafas ini dengan amal ibadah kepadaNya tentulah hanya orang yang bersungguh-sngguhlah yang mampu melaksanakan.
Dalil-dalil dari hadist:
استعن بالله ولا تعجز
Minta tolonglah kepada Allah dan jangan menjadi orang yang lemah (HR. Muslim no 2664)

حجبت النار بالشهوات، وحُجبت الجنة بالمكاره
Nereka itu diliputi dengan hal-hal yang menyenangkan dan surga selalu diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenagkan (HR. Bukhari no 6487 dan Muslim no 2823)

عن أبي هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : من مات و لم يغزو و لم يحدث نفسه بالغزو مات على شعبة من النفاق
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shalallahu’alaihi wasalam bersabda: Barang siapa yang mati dan balum berperang-jihad- dan juga belum mengatakan kepada dirinya untuk berjihad maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan (HR. Muslim no 1910).
Hadist ini mengabarkan tentang orang-orang yang memiliki kesudahan yang sukses, yaitu cuma ada kelompok besar,  orang yang berjihad dijalan Allah dan orang yang terbakar jiwanya oleh api kerinduan akan kemulian syahid, tentu dua kelompok ini bukanlah orang biasa.
Setiap kemenangan pastilah akan menjadi kenangan bagi setiap kita, dan besarnya nilai kebahagiyaan meraih kemenagan itu tentu berbanding lurus dengan kompetisi dan perjuangannya, dalam syair disebutkan:
لولا المشَقَّةُ سادَ الناسُ كلُّهُمُ *** الجُودُ يُفقِرُ والإقدامُ قتَّالُ – لا تحسبن المجد تمرا أنت آكله * * * لن تبلغ المجد حتى تلعق الصبرا
“Seandainya tidak ada perjuangan yang berat tentu seluruh manusia menjadi pemimpin…”
“Sikap dermawan itu bisa menjadikan seseorang menjadi miskin dan maju ke medan perang menjadikan seseorang terbunuh…”
“Janganlah engkau mengira kemuliaan itu bagaikan buah kurma yang dengan enak engkau memakannya…”
“Engkau tidak akan pernah meraih kemuliaan sampai engkau memakan buah shabira (buah yang sangat pahit)…”.
Awali Dengan Kesungguhan (Bagian 2)

Sifat orang yang bersungguh-sungguh.

1. Punya tujuan yang jelas
Sekitar delapan tahun yang lalu ada pengalaman yang cukup menarik bagi ana, ana pernah bekerja di dua perusahaan pelayaran walaupun tidak begitu lama mungkin sekitar tiga tahunan, yang pertama perusahaan milik orang japan yang berkantor cabang dimalaysia dan yang kedua perusahaan milik orang Taiwan yang berkantor di Jakarta, ya sempat jadi orang laut, bahkan terakhir kali sempat delapan bulan tidak injak daratan karena full dilaut, dari beberapa penjelajahan itu banyak juga yang membuat hati ini susah melupakannya, diantaranya ana pernah melakukan pelayaran dari Pontianak ke sundakelapa Jakarta dengan kapten kapal dari pulau samosir, dalam pelayaran tersebut kita tidak membekali diri dengan standard safety yang diwajibkan oleh Syah Bandar (tidak pakai kompas, peta pembaringan dan lain-lain apalagi GPS kayaknya malah kapten sendiri tidak bisa mengoperasikannya, tapi ternyata kaptennya memang jago dan Alhamdulillah sampai juga di Jakarta sesuai jadwal walaupun cuaca dilaut menakutkan juga karena musim hujan dan badai. Ternyata bintanglah yang menjadi acuan tujuan perjalanan kami waktu itu .

Berbicara masalah tujuan tentu ini merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita, tujuan ibarat bintang yang menjadi panduan pada saat kita berlayar dimalam hari. Tanpa bintang kita bisa kehilangan arah dan bingung harus ke mana kita pergi. Apalagi sebagai seorang muslim yang meyakini bahwa tujuan hidup ini “is given” dari Allah Subhanahuwata’ala, tentu semua kita ingin bagaimana tujuan itu tervisualisasi terus sehingga kita tidak easygoing tentunya. Jika tujuan sudah ditetapkan, selambat apapun kita bergerak insya Allah merupakan kemajuan, tetapi bagi orang yang tidak tahu tujuannya, sesemangat apapun dia bergerak maka berujung kepada kesia-siaan. Tujuan sangat menentukan bagi kesuksesan kita, selain akan memotivasi kita, dengan tujuan tersebut kita bisa melihat sudah sejauh mana kemajuan kita. Tujuan dapat memfokuskan amal kita, dengan kata lain dapat meningkatkan kesungguhan. Tindakan yang terfokus atau konsentrasi akan menghasilkan hasil yang lebih baik dan lebih cepat tentunya.

Tidak selamanya orang yang bersungguh-sungguh selalu harus dihadapkan dengan setumpuk program kerja atau susah ditemui karena jadwalnya dimana-mana, apalagi sampai dehidrasi karena harus berkeringat terus menjalankan kerjanya, akan tetapi orang yang bersungguh adalah orang yang cermat, cepat dan disiplin dalam amalnya.

Masuk surga sebagai tujuan akhir???… ya kita semua tentu sepakat.

Akan tetapi sudahkah kita memvisualisasikan surga di mata kita sehingga menjadi motivasi dalam setiap amal kita sehingga semua rutinitas kita menjadi surga oriented.

Semakin jelas tujuan kita maka akan semakin jelas juga langkah-langkah kita untuk mencapai tujuannya itu, bahkan insya Allah sebagian langkah kita akan menjadi otomatis. Yakinlah!!

Allah Subhanahuwata’ala menawarkan surga dengan beberapa jalan agar sampai kepadanya, disinilah kita harus mengambil peran yang tepat agar minimal punya satu jalan yang jelas untuk sampai kesana, mengingat batas perjuangan ini yang misterius kapan berakhirnya, keterbatasan menjadi hal yang selalu melekat pada kita.

Tujuan yang jelas membuat hidup lebih mudah, karena aktivitas  yang akan kita lakukan lebih tersusun dan terkontrol. Hidup kita lebih jelas, rapi, teratur didalam kita memainkan peran untuk suatu perjuangan, sebaliknya ketidakjelasan akan sebuah tujuan adalah tanda dari suatu kegagalan.

Pernah suatu pagi sahabat Harits bin Malik RA  tidur dimasjid kemudian dibangunkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam seraya bertanya kepadanya:

Rasul:  “Wahai Harits bagaimana keadaanmu pagi ini?

Harits: “ Pagi ini aku betul-betul beriman wahai Rasulullah”.

Rasul: “ Sesungguhnya setiap perkataan ada hakikatnya, lalu apa hakikat imanmu?

Harits: “Diriku menjauhi dunia, aku begadang pada malam hari dan berlapar-lapar pada siang hari, seakan-akan aku melihat ‘Arsy Rabbku sangatlah terang dan aku juga melihat para penghuni surga saling mengunjungi serta seakan-akan melihat penghuni neraka meliuk-liuk kelaparan”

Rasul: “ Sekarang aku yakin maka pertahankanlah!

Harits: “Wahai Rasulullah doakanlah aku untuk kesyahidan”, kemudian beliau mendoakannya. Maka diserulah kami pada suatu hari dalam rombongan pasukan berkuda
“Maka yang pertama memacu kudanya maka dialah yang pertama mendapat kesyahidan”.
Terdengarlah kabar tersebut oleh ibunda Harits dan bertanya: “ Wahai Rasulullah, jika dia berada disurga maka saya tidak akan menangis dan bersedih, tetapi jika dia dineraka maka aku menangis selama hidupku didunia”.

Rasul:” Wahai ibunda Harist sesungguhnya dia tidak disurga, akan tetapi dia disurganya surga dan Harist disurga firdaus yang paling tinggi”. (Allahu Akbar…Nas aluhu kamaa sa ala Harist..) [Ishabah fi tamyiz ash shahabah 2/175, Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar : Yusuf ibn Athiyah rawi yang lemah, diriwayatkan juga oleh Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir]

Itulah Harits yang telah berhasil, dalam perjuangannya. Sehingga  kalau kita perhatikan maka ada beberapa yang harus kita siapkan, yaitu:

1.    Menentukan tujuan hidup yang sejelas mungkin dan realistis.
2.    Mengikuti arah ketujuan tersebut secara fokus, karena tujuan bukanlah sekedar angan-angan.
3.    Memvisualisasikan tujuan tersebut sehingga selalu nampak jelas dimata kita.

Juga dengan tujuan yang jelas tentu kita akan lebih hemat waktu, Dari Jabir bin Abdullah RA menceritakan bahwa dalam perang uhud ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW sambil menggenggam beberpa butir kurma
“Bagaimana pendapat anda jika saya terbunuh maka saya dimana?”
Rasulullah bersabda: “ Disurga”. (HR Al Bukhari no. 4046)
Ya menghabiskan bebapa butir kurma betul-betul terasa lama jika tujuan itu terasa didepan mata. Mana mungkin orang-orang jiddiyah akan bersantai-santai.

Awali Dengan Kesungguhan (Bagian 3)

2 . Istisy’arul masuliyah / feel responsible
Sifat seterusnya yang melekat pada orang yang bersungguh-sungguh adalah Istisy’arul masuliyah sehingga dengan sifat ini semua yang disekitarnya selalu mensupportnya sampai dirinya meraih cita-citanya tanpa harus meminta kepada mereka.

Pernahkah kita membayangkan kalau ada orang menuding kita “Anda tidak bertanggung jawab”!!!!….

Na’udzubillah.. kalau kita mengalami itu mungkin cuma ada satu cara untuk mengatasi tudingan itu, yaitu “Peganglah muka kita kemudian letakan dibelakang punggung biar tidak kelihatan”.

Rasa tanggung jawab adalah tolak ukur paling pertama seseorang akan dipercaya atau tidak, coba kalau telinga kita mendengar “sifulan bukan orang yang bertanggung jawab”, maka akan bermunculan dibenak kita sifat-sifat buruk, misalnya:
1.    Tidak amanah
2.    Tidak bisa dipercaya omongannya
3.    Tidak menepati janji
4.    Tidak bisa dijadikan teman dekat
5.    Inkonsisten
6.    Lain dimulut lain dihati
7.    Susah diajak serius
8.    Easy going
9.    Sering bikin kecewa orang
10.    Dijauhi teman-temannya, dan lain-lain
Tetapi sebaliknya kalau seseorang sudah mendapat predikat sebagai orang yang bertanggung jawab, maka benak kita langsung bisa mengeksplor sifat-sifat terpujinya, misal:
1.    Amanah
2.    Omongannya bisa dipegang
3.    Orangnya kuat
4.    Baik hati
5.    Tegas
6.    Menepati janji
7.    Senang berteman dengannya
8.    Konsisten
9.    Tidak easy going
10.    Mudah diajak serius
11.    Apa yang diucapkan sama dengan yang dihatinya
12.    Tidak suka mengecewakan orang
13.    Disukai teman-temannya
14.    Tulus jika memberi
Bahkan pernah kita mendengar “Kalau belum menikah biar sama adikku saja biar tidak terlalu tampan atau belum bekerja tetap kan dia bertanggung jawab”.

“Sudah menikah juga tidak mengapa…kan bertanggung jawab.. .”

Saking mahalnya sifat tanggung jawab ini apabila melekat pada diri seseorang maka bisa menutup kekurangan-kekurangan seseorang yang sangat banyak, menjadikan orang lain mengabaikan yang lainnya, tidak mempedulikan lagi tampan tidaknya, kaya tidaknya, usianya berapa, asalnya dari mana, bagaimana nasabnya, menikah apa belum, karena yang ada cuma satu, “Dia orang yang bertanggung jawab”.

Tanggung jawab adalah rasa yang tidak boleh lepas dari sifat orang yang bersungguh-sungguh dan orang yang mencita-citakan kesuksesan, dan yang jelas itu dalah sifat dasar orang-orang yang beriman akan adanya hari pembalasan, bahkan kehidupan ini merupakan ujian untuk menguji siapa-siapa diantara kita yang betul-betul menyadari bahwa kita adalah makhluk sehingga harus bertanggung jawab kepada Sang Khaliq ataukah kita orang-orang yang ingkar dan lari dari tanggung jawab sebagai makhluk -na’udzubillah-.

Al Qur’an dan As Sunnah memperingatkan kita semua agar bertanggung jawab dalam semua karunia Allah Subhanahuwata’ala.
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (QS. Al Isra [17]:36).

Abdurrahman As Sa’di berkata: “ Maka pada prinsipnya bagi hamba yang mengetahui bahwa dirinya sebagai penanggung jawab terhadap apa yang di ucapkan, diperbuat, dan apa saja yang digunakan untuk beraktifitas yang Allah ciptakan itu untuk beribadah maka harus mempersiapkan jawabannya sebelum ditanyakan, oleh karena itu tidaklah menggunakannya kecuali untuk beribadah kepadanNya, memurnikan agama kepadaNya dan menahan diri dari yang tidak disukaiNya (Tafsir As Sa’di).
وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang Telah kamu kerjakan (QS. An Nahl [16]:93)
لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ كَيْفَ عَمِلَ فِيهِ
Tidaklah bergeser kaki keturunan Adam  pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai ditanya lima pertanyaan, tentang umurnya dihabiskan untuk apa, tentang  masa mudanya digunakan untuk apa, tentang hartanya darimana diperoleh dan kemana diinfakan, dan tentang ilmunya bagaimana diamalkan (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Al Bani dalam Shahih Dha’if Sunan At Tirmidzi no 946).

Orang yang bersungguh-sungguh bukanlah orang yang lari dari tanggung jawab, karena dia memahami bahwa lari darinya merupakan kesia-siaan yang menjadikan hilang dari dirinya sifat mulia dan kepercayaan orang disekitarnya, memungkinkan orang yang lari dari tanggung jawab selamat di dunia ini tapi tidak akan mungkin bisa lari di akhirat kelak.

Apalagi dalam urusan dakwah untuk keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala ,  jelaslah menuntut pribadi-pribadi yang mepunyai kriteria tersendiri guna memikul tanggung jawab yang berat ini  yaitu menyampaikan risalah mulia ini kepada umat, maka tidak semua orang bisa memikul amanah ini kecuali pribadi-pribadi super tangguh, kokoh dalam setiap ada regulasi,  yang terpenuhi dadanya dengan feel responsible serta terbina dengan pembinaan yang jaaddah serta ringan berkorban demi agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasul Shalallahu’alaihiwasalam mensifati mereka dalam sabdanya:

Orang-orang terbaik diantara mereka adalah orang yang memegang tali kudanya untuk berjihad fisabilillah. Dia berlari kencang dengan segenap kekuatan. Setiap kali mendengar suara atau jeritan yang menakutkan maka mereka segera bangkit kekuatannya, mencari pertarungan dalam perang atau kesyahidan(HR. Muslim no 1889).

Ya Qawwi Ya Aziz inna nas aluka Syahadatan fi sabilik.

Muhammad Agung Bramantya

8 Comments »

  1. venty Said,

    March 1, 2010@ 5:27 pm      

    kesungguhan merupakan awal dari kesuksesan

  2. hari Said,

    May 19, 2010@ 6:52 am      

    assalamualaikum…ijin copy paste y akh,…..
    jazakumullah
    salam ukhuwah!!


RSS feed for comments on this post

Leave a Comment