Tiga Tokoh, Tiga Model Kekuasaan (Part 2).

Setelah sebelumnya dijelaskan secara singkat ini kelanjurannya…satu per satu.

Kekuasaan Kaisar Persia

Khasru Parvis II memiliki angkatan perang yang dasyat dan dengan kekuasaannya yang besar ia merasa menjadi manusia yang hebat. Tetapi kekuasaannya yang besar itu tidak didukung oleh solidaritas yang kuat karena tindakannya yang kejam dan mementingkan diri sendiri. Naiknya Parvis II ke singgasana kerajaan saja dengan cara kudeta,sudah menjadi bibit tersendiri bahwa kekuasaannya yang dibangun atas kekuatan militer tak akan solid.
Agama Majusi yang berkembang di Persia pada akhirnya lebih mirip budaya yang mempertuhankan penguasa. Hal ini diketahui dari dua orang algojo Yaman yang diutus raja mereka untuk membunuh Rasulullah SAW. Raja Yaman sendiri melakukan hal itu atas perintah Khasru Parvis II karena saat itu Yaman menjadi satelit imperium Persia. Parvis II marah ketika Rasulullah SAW mengirim surat da’wah kepada dirinya. Kedua algojo itu berkumis malang melintang dangan dagu yang bersih dan ketika Rasulullah SAW bertanya tentang model kumisnya itu keduanya berkata : “ Tuhan kami (maksudnya Raja Persia) yang menyuruh kami seperti ini.
Keangkuhan Khasru Parvis II luar biasa, karena dengan sombongnya ia menghinakan Rasulullah SAW dengan menyiksa utusan beliau dan merobek-robek surat da’wah yang beliau kirimkan. Padahal secara factual saat itu (Maret 628 M) kerajaan Persia sendiri tengah mengalami kepungan dasyat dari kaisar Heraklius yang terus menerus mengalami kemenangan atas tentara Persia. Kekuasaan Kaisar Persia yang tampaknya besar itu kemudian terbukti tidak memiliki landasan yang kokoh, sebagaimana syarat yang diungkapkan Ibnu Khaldun. Solidaritas dan soliditas masyarakatnya sangat lemah, bahkan di lingkungan keluarga kerajaan sekalipun.
Dalam situasi genting itu bukannya solidaritas dan soliditas meningkat, namun sebaliknya justru semakin hancur. Kavadh II anak Parvis II melakukan kudeta berdarah yang menyebabkan ayahnya sendiri dibunuh dengan bengis. Kavadh II rupanya lebih realistis terhadap kekuasaan yang dimilikinya sehingga ia harus memaksakan kebijakan yang menuntut dirinya baik, yakni berdamai dengan pihak Romawi. Kekuasaan Parvis II yang angkuh dan merasa besar itu habis di tangan anaknya sendiri yaitu Kavadh II.

Leave a Comment