Adab Bagi Para Da’i

Oleh :

Al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Hasan bin ‘Abdirrahman Alu asy-Syaikh

(Anggota Ha`iah Kibaril Ulama dan Lajnah Da`imah lil Ifta’)

حفظه الله ورعاه

Pendahuluan

Dakwah ke jalan Alloh Ta’ala merupakan ketaatan yang paling mulia dan qurobah (pendekatan diri/ibadah) yang paling agung. Dakwah merupakan seutama-utama pergerakan yang mengarahkan semangat yang tinggi dan kemauan yang kuat, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat : 33)

Alloh pun juga telah menyediakan bagi (orang yang) berdakwah, ganjaran yang besar dan pahala yang berlimpah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه دون أن ينقص من أجورهم شيء

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya tersebut sedikitpun.” (HR Muslim).

Berdakwah ke jalan Alloh merupakan jalannya para nabi dan rasul, dan jalannya orang-orang yang mengikuti mereka dari para ulama dan para du’at yang mushlihin (reformis/melakukan perbaikan). Alloh Azza wa Jalla bahkan telah memilih makhluk pilihan-Nya untuk berdakwah, yang Alloh sifati sebagai makhluk-Nya yang paling mulia serta nabi dan rasul-Nya yang paling utama, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam, di dalam firman-Nya :

وداعياً إلى الله بإذنه وسراجاً منيراً

Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS al-Ahzab : 46)

Wajib bagi para da’i yang berdakwah di jalan Alloh, agar berhias dengan adab-adab yang dapat menghantarkan dakwahnya kepada kesuksesan, dan diantara adab-adab tersebut adalah :

Pertama : Ikhlas di dalam dakwah

Ikhlas di dalam dakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla merupakan adab yang paling agung dan merupakan esensi dakwah serta merupakan pondasi keberhasilan amal dakwah. Dakwah ke jalan Alloh adalah ibadah untuk bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah. Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS al-Bayyinah : 5)

Maka wajib bagi setiap da’i supaya mengikhlaskan dakwahnya hanya kepada Alloh, janganlah ia beramal atas dasar riya’ (pamer agar dilihat orang) dan sum’ah (pamer agar didengar orang), dan jangan pula untuk mengambil dunia dan reruntuhan yang fana (tidak kekal) lagi akan lenyap. Namun hendaklah lisannya senantiasa mengucapkan :

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ

Katakanlah: Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah.” (QS al-Furqon : 57)

Maka janganlah ia di dalam dakwahnya mencari bagian (harta), kedudukan dan jangan pula syuhroh (popularitas), namun wajib baginya beramal hanya mengharapkan wajah Alloh Ta’ala semata.

Kedua : Ilmu

Wajib bagi para da’i untuk menuntut ilmu yang bermanfaat, yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Hendaklah ia berdakwah di atas bashiroh (keterangan yang jelas), karena Alloh berfirman di dalam Kitab-Nya yang mulia :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf : 108)

Alloh sendiri telah menetapkan di dalam kitab-Nya yang mulia tentang pentingnya bagi para du’at untuk mempelajari ilmu syar’i, sebagaimana dalam firman-Nya Ta’ala :

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS at-Taubah : 122)

Apabila Ilmu syar’i itu wajib bagi setiap muslim, hanyasaja kewajibannya lebih ditekankan dan diharuskan lagi bagi da’i, dikarenakan perkaranya tidak dikhususkan hanya melulu kepadanya, namun juga kembali kepada selainnya. Oleh karena itu, seorang haruslah berupaya memahami tingkatan yang memadai tentang hakikat Islam dan hukum-hukum syariat, sehingga manusia menjadi yakin dengan ilmunya dan menerima dakwahnya.

Ketiga : Mengamalkan Ilmu

Hal ini termasuk perkara yang penting di dalam kehidupan seorang da’i. Seorang da’i tanpa amal bagaikan seorang pemanah tanpa busur. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala sendiri telah mencela orang-orang yang berupaya melakukan perbaikan terhadap manusia namun melupakan diri mereka sendiri. Alloh Ta’ala berfirman :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS al-Baqoroh : 44)

Dan firman-Nya Subhanahu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS ash-Shaff : 2-3)

Apabila seorang da’i adalah orang yang shalih (lurus) dan mustaqim (jujur) terhadap dirinya sendiri, maka manusia akan bersegera menerima ucapannya dan mendengar perkataannya, serta ia akan menjadi orang yang berpengaruh terhadap masyarakat.

Keempat : Mendahulukan yang prioritas

Sesuatu yang pertama kali diserukan oleh para rasul ‘alaihim ash-Sholatu was Salam adalah dakwah kepada aqidah shahihah, karena aqidah shahihah merupakan pondasi. Alloh Ta’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.” (QS al-Anbiya’ : 25)

Apabila aqidah telah lurus, mereka menyeru kepada perkara-perkara agama lainnya, baik berupa perkara-perkara yang fardhu (wajib), nafilah (sunnah), adab dan selainnya. Untuk itu wajib bagi setiap da’i supaya mendahulukan yang prioritas di dalam dakwahnya, dan yang demikian ini merupakan sebab-sebab diperolehkan kesukesan di dalam dakwah,

Kelima : Sabar

Sabar merupakan penopang yang paling kuat bagi seorang da’i yang sukses. Seorang da’i itu membutuhkan kesabaran sebelum, ketika dan setelah berdakwah. Dengan inilah Alloh memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, Ia berfirman :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُوْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

“Bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya ulul azmi dari para rasul.”

Sabar di dalam dakwah kedudukannya bagaikan kepala terhadap jasad. Maka tidak ada dakwah bagi orang yang tidak memiliki kesabaran sebagaimana tidak ada jasad bagi orang yang tidak memiliki kepala.

Seorang da’i haruslah bisa bersabar atas dakwahnya dan terhadap apa yang ia dakwahkan, karena dakwah ke jalan Alloh adalah jalan yang dipenuhi dengan kesukaran-kesukaran dan kesulitan-kesulitan. Seorang da’i, ia pasti akan menghadapi berbagai bentuk gangguan, hinaan dan cercaan, apabila ia sabar terhadapnya, maka ia adalah seorang imam yang patut diteladani, Alloh Ta’ala berfirman :

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS as-Sajdah : 24)

Telah ada pada kekasih kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam uswah hasanah (panutan yang baik) bagi diri kita, beliau telah melangsungkan dakwahnya selama 23 tahun, berdakwah menyeru kepada Alloh siang dan malam, secara diam-diam maupun terang-terangan. Namun, tidak ada satupun yang dapat memalingkan beliau dari dakwahnya dan tidak ada pula yang dapat mengehentikan upaya beliau.

Beliau mendapatkan berbagai kesulitan dan gangguan dari kaumnya, sampai-sampai gigi seri beliau patah dan pipi beliau terluka serta pedang telah dihunuskan pada dada beliau, namun beliau tetap bersabar dengan kesabaran yang belum pernah nabi sebelum beliau mengalaminya. Beliau senantiasa menyebarkan agama Alloh dan menegakkan jihad terhadap musuh-musuh Alloh, bersabar atas segala gangguan yang menimpa beliau, sehingga Alloh kokohkan kedudukan beliau di bumi dan Alloh menangkan agama beliau dari semua agama serta Alloh menangkan umat beliau dari seluruh ummat.

Keenam : Berakhlak yang baik

Diantara bentuk akhlak yang baik adalah penuh kasih sayang, kelemahlembutan, keramahan, wajah yang berseri-seri, tawadhu’ (rendah diri) dan tutur kata yang halus. Alloh Azza wa Jalla telah menyanjung panutan para du’at Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh pada dirimu terdapat perangai yang agung.

Dan kita memiliki tauladan yang baik pada diri beliau Shallallahu ’alaihi wa Salam. Betapa banyak orang yang masuk islam disebabkan oleh kelemahlembutan, kemuliaan dan sifat pengasih beliau padahal dahulunya mereka adalah orang yang berada di atas kejahiliyahan, lalu menjadi sahabat mulia yang berperangai baik.

Siapa saja dari para du’at yang tidak berperangai dengan akhlak yang baik, maka ia akan menyebabkan manusia lari darinya dan dari dakwahnya. Karena tabiat manusia itu, mereka tidak mau menerima dari orang yang suka mencela dan menunjukkan pendiskreditan terhadap mereka, walaupun yang diucapkan orang itu adalah benar tanpa ada kebimbangan sedikitpun. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya yang mulia :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali ’Imran : 159)

Ketujuh : Hikmah

Hendaklah dakwah ke jalan Alloh itu dilakukan dengan hikmah dan cara yang baik serta penuh kelemahlembutan ketika menerangkan kebenaran, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah ke jalan tuhanmu dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS an-Nahl : 125)

Apabila dakwah ke jalan Alloh dilakukan dengan sikap kasar dan bengis, maka akan lebih banyak memadharatkan ketimbang memberikan manfaat.

Kedelapan : Penuh Perhatian

Wajib bagi seorang da’i memiliki pengetahuan terhadap realita di negeri yang ia berdakwah di dalamnya dan mengetahui kondisi manusia yang ia dakwahi. Untuk itulah ia haruslah mengerti akan permasalahan-permasalahan yang terjadi dan problematika-problematika yang tersebar di masyarakat, sehingga ia menjadi orang yang memiliki pengetahuan yang mantap dan ia dapat memilih cara dakwah yang tepat bagi orang yang didakwahinya dan mengetahui tema-tema pembahasan yang penting bagi mereka.

Kesembilan : Tenang (tidak terburu-buru) dan tatsabbut (verifikasi)

Termasuk ciri utama yang membedakan seorang da’i yang berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla adalah, bersikap ta`anni (tenang/tidak terburu-buru) dan tatsabbut (verifikasi/cek dan ricek) terhadap segala perkara yang terjadi dan semua berita yang ada. Maka janganlah dia bersikap tergesa-gesa sehingga menghukumi manusia dengan apa yang tidak ada pada mereka, yang dapat menyebabkan dia menyesal dan bersedih hati diakibatkan sikap ketergesa-gesaannya. Untuk itulah Alloh Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujuraat : 6)

Kesepuluh : Tidak Berputus Asa

Sebagian du’at, apabila orang yang didakwahi tidak menerima dakwah mereka, hal ini menyebabkannya menjadi putus asa dan putus harapan sehingga ia meninggalkan dakwah. Padahal merupakan kewajiban bagi seorang da’i untuk mengetahui bahwa kewajiban atasnya hanyalah menegakkan hujjah dan melepaskan tanggungan (kepada Alloh), sebagaimana yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebutkan berkenaan dengan suatu kaum yang mengingkari perbuatan ashabus sabt (yaitu Bani Israil, pent.) yang buruk, Alloh berfirman tentang mereka yang menyatakan :

لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُواْ مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? mereka menjawab: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa.” (QS al-A’raaf : 164)

أسأل الله العلي القدير أن يوفقنا لما فيه رضاه، وأن يهدينا صراطه المستقيم، وأن يجعلنا من العاملين بشرعه، الداعين إلى دينه على بصيرة، إنه سميع مجيب

Saya memohon kepada Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Berkuasa agar senantiasa memberikan taufiq-Nya kepada kita terhadap segala hal yang diridhai-Nya dan menunjuki kita kepada jalan-Nya yang lurus serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan syariat-Nya dan orang-orang yang berdakwah menyeru kepada agama-Nya di atas bashiroh, sesungguhnya Ia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengijabahi.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين، وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Demikian akhir do’a kami, segala puji hanyalah milik Alloh Rabb pemelihara semesta alam. Semoga Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, keluarga beliau dan seluruh sahabat beliau.

Comments (6)

Da’wah ke jalan Allah dan akhlaq seorang Da’i

للإمام عبد العزيز بن عبد الله بن باز

DAKWAH KE JALAN ALLOH DAN AKHLAK SEORANG DA’I

Karya :

Imam ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، إله الأولين والآخرين، وقيوم السماوات والأرضين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله وخليله وأمينه على وحيه، أرسله إلى الناس كافة بشيرا ونذيرا، وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه الذين ساروا على طريقته في الدعوة إلى سبيله، وصبروا على ذلك، وجاهدوا فيه حتى أظهر الله بهم دينه، وأعلى كلمته ولو كره المشركون، وسلم تسليما كثيرا أما بعد:

Segala puji hanyalah milik Alloh Rabb (pemelihara) alam semesta, dan akibat (yang baik) hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa serta tidak ada permusuhan melainkan hanya kepada orang-orang yang berbuat aniaya (zhalimin). Aku bersaksi bahwa tiada ilaah (sesembahan) yang haq untuk disembah kecuali hanyalah Alloh semata yang tiada sekutu bagi-Nya, (Dialah) sesembahan yang pertama dan yang belakangan, yang menegakkan langit dan bumi. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya serta kekasih (khalil) dan kepercayaan (amin)-Nya yang bertugas menyampaikan wahyu-Nya, yang Alloh mengutus beliau kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, yang menyeru kepada Alloh dengan izin-Nya dan pembawa pelita yang terang benderang. Sholawat dan Salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada beliau dan kepada keluarga beliau serta para sahabat beliau yang meniti di atas jalan beliau di dalam berdakwah ke jalan Alloh, yang mereka bersabar di atasnya dan berjihad di dalamnya sampai Alloh memenangkan bagi mereka agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya, walaupun orang-orang musyrik membencinya. Amma Ba’du : Read the rest of this entry »

Comments (10)

Zahud Dai’yah Ilallah

Penulis:

Faqihuz Zaman al-Imam al-‘Allamah

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Rahimahullahu

Kata Pengantar

Seorang yang bijak pernah berkata :

فاقد الشيئ لا يعطي

Seorang yang tidak memiliki apa-apa tidak dapat memberi

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh orang bijak ini, karena bagaimana bisa memberi? Padahal ia tidak memiliki apa-apa.

Lantas, bagaimana halnya dengan seorang da’i yang mengajak ke jalan Alloh sedangkan ia tidak memiliki ilmu dan bekal-bekal di dalam menempuh jalan dakwah, apa yang akan dia berikan kepada ummat? Padahal Alloh telah melarang manusia berkata-kata tanpa ilmu, apalagi berbicara di dalam agama Alloh tanpa ilmu.

Untuk itulah, selayaknya bagi seorang da’i yang berdakwah di jalan Alloh agar membekali dirinya dengan bekal-bekal dakwah. Apa sajakah bekal-bekal dakwah yang sepatutnya seorang da’i mempersiapkannya? Faqihuz Zaman, al-Imam al-’Allamah Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah memberikan jawabannya dengan terang dan jelas. Maka reguklah ilmu ini wahai hamba Alloh dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal adalah takwa.

Malang, 11 Ramadhan 1428 H.

BEKAL-BEKAL BAGI PARA DA’I

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أرسله الله تعالى بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله، فبلَّغ الرسالة، وأدى الأمانة، ونصح الأمة، وجاهد في الله حق جهاده، وترك أمته على محجة بيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك، فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وأسأل الله عز وجل أن يجعلني وإياكم من أتباعه باطناً وظاهراً، وأن يتوفانا على ملته، وأن يحشرنا في زمرته، وأن يدخلنا في شفاعته، وأن يجمعنا به في جنات النعيم مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين، والصديقين، والشهداء والصالحين. أما بعد:

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh, yang kita menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya serta kita bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal-amal kita. Barangsiapa yang Alloh berikan petunjuk kepada-Nya maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Alloh leluasakan kepada kesesatan maka tidak ada seorangpun yang yang memberinya petunjuk. Read the rest of this entry »

Comments (9)

Kesungguhan yang Baik

Berbicara tentang kesungguhan seorang muslim yang kaffah,mengharuskan kita memiliki atau minimal terus berusaha agar Uluwwul Himmah ada pada diri kita masing-masing.Keutuhan niat ikhlas yang kuat menjadi landasan yang kuat dalam membangun kesungguhan itu sendiri.

Sepenggal kata diatas menjadi bagian yang mengharuskan saya untuk terus berbenah.Tak lepas dari masih sedikitnya pengetahuaan dan amal yang sudah terlaksanakan.

Menatap Fajar Diatas Awan

Comments (16)

5 Langkah Kepemimpinan Yang Baik.

Memimpin orang lain membawa tuntutan baru terhadap individu dan mengharuskan mereka memiliki atau mengembangkan kompetensi dan atribut baru. Biasanya orang dipromosikan di sebuah pos dimana mereka harus memimpin yang lain karena mereka memiliki kinerja yang tinggi dalam hal melakukan tugas yang berorientasi pada pekerjaan. Namun memimpin orang lain memerlukan ketrampilan lain dibandingkan melakukan sesuatu untuk diri Anda.
Jadi apa saja 5 atribut penting untuk memimpin orang lain ?

1. Memberikan Feedback
Atribut pertama adalah belajar bagaimana memberikan feedback. Orang didalam organisasi mencari feedback, dipuji dan dihargai atas apa yang sudah mereka lakukan untuk Anda agar mendapatkan hasil. Proporsi besar dalam kehidupan kita dihabiskan di tempat kerja dan kita ingin merasa dihargai. Jika Anda harus menilai diri Anda sendiri pada skala 1-10 dalam hal memberikan feedback (10 yang paling baik ) berapa skor yang akan Anda berikan untuk diri sendiri ? Memberikan feedback memerlukan sedikit waktu atau tidak sama sekali, tidak ada beban apapun dan merupakan kontribusi terbesar bagi karyawan dan staf untuk merasa senang . Baca Selengkapnya

Comments (19)

Tujuan Bekerja Yang Baik Dalam Islam.

Urusan dunia merupakan perkara yang paling banyak menyita perhatian umat manusia, sehingga mereka menjadi budak dunia, bahkan lebih parah lagi, sejumlah besar Umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan mengurangi peluang mereka dalam mengais rizki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian aturan islam terutama yang berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram.
Islam tidak membiarkan seorang muslim kebingungan dalam berusaha mencari nafkah, bahkan telah memberikan solusi tuntas dan mengajarkan etika mulia agar mereka mencapai kesuksesan dalam mengais rizki dan membukakan pintu kemakmuran dan keberkahan. Kegiatan usaha dalam kaca mata Islam memiliki kode etik dan aturan, jauh dari sifat tamak dan serakah sehingga mampu membentuk sebuah usaha yang menjadi pondasi masyarakat madani dan beradab. Baca Selengkapnya

Comments (13)

7 Sifat Kepemimpinan Yang Baik.

1. Integritas.
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang anda katakan akan anda lakukan. Integritas membuat anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan anda. Integritas adalah penepatan janji-janji anda.Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka menuju ke tujuan yang anda janjikan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa. Baca Selengkapnya

Comments (12)

Tawakkal dan Ikhtiar dalam Mencari Nafkah yang Baik.

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, Dzat yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amiin.
Hidup Mulia Dengan Kucuran Keringat Sendiri.
Syari’at Islam adalah syari’at yang mulia dan senantiasa mengajarkan setiap kemuliaan kepada umatnya. Islam juga melarang setiap hal hina dan menyebabkan kehinaan kepada pelakunya.Syari’at ini berlaku dalam segala aspek kehidupan manusia, dimulai dari urusan manusia paling besar, yaitu yang berkaitan dengan harga diri dan tujuan hidup mereka di dunia, hingga urusan mereka yang paling kecil. Baca Selengkapnya

Comments (15)

Kecermatan yang Baik.

Benarkah mutu gizi di Negara kita yang menurun menyebabkan daya pikir kita menurun? Kita banyak menemukan orang malas mikir, sekedar gali lubang – tutup lobang dalam menyelesaikan masalah, tidak mengantisipasi, gagal membuat prediksi, asal membuat keputusan, tidak kreatif dan tidak inovatif. Sebut saja, pendidikan yang biayanya makin meroket dan bukannya semakin terjangkau. Program yang mati di tengah jalan, seperti misalnya pengembangan monorail, yang bahkan kini membongkar kembali tiang pancang raksasa yang pernah didirikan di beberapa jalan protokol. Dokter pintar yang kalah pamornya dari bocak cilik dan batu petir-nya. Olok – olok nyanyian, ”Inilah Indonesia…”, pada setiap kebodohan praktik-praktik lapangan yang kita jumpai, sering menyakitkan hati. Baca Lebih Lanjut

Comments (17)

Kerjasama yang Baik.

a.Persepsi tentang kerjasama  :

  1. Ada orang yang dapat bekerja secara efektif dan efisien dengan kerjasama kelompok, bahkan bagi sebagian orang keterikatan pada kelompok merupakan suatu kebutuhan.
  2. Namun, ada orang yang lebih senang bekerja sendirian tidak begitu menyukai kelompok.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelompok :

  • Adanya rasa percaya (Trust) diantara sesama anggota kelompok;
  • Adanya keterbukaan (Openness) diantara sesama anggota kelompok;
  • Adanya kesempatan mengekspresikan perwujudan diri (Self Realization) bagi setiap anggota kelompok; Baca Lebih Lanjut

Comments (14)

« Previous Page Next entries »